MY SCHOOL IS HELL, Korban Bullying

Akhir-akhir ini semarak berita perihal pembully-an di SD TRISULA PERWARI, daerah BUKITTINGGI SUMATERA BARAT. Di video tersebut ditunjukkan anak-anak laki-laki berani memukul, menendang anak perempuan. Sepertinya itu hampir sekelas yang jadi pelakunya. Entah siapa provokatornya, yang jelas ia telah merendahkan martabat rakyat Indonesia. Merendahkan pendidikan, dan mempermalukan bangsa ibu pertiwi. Bagaimana tidak, disaat ada yang dipukuli kenapa tidak ada guru yang mengawasi? Kenapa temen-temen yang tidak terlibat pun tidak turut merelai? Salah apa ini?? Otaknya kah? Moralnya kah?? Harusnya jika pendidikan agama tertanam kuat, pasti jika ada yang berbuat seperti itu akan ada yang melerai dan melindungi temannya yang dianiaya itu. Masya Allah.. Allahu Rabbi..

Aku yakin tidak hanya sekolah itu yang terlibat kasus pembullyan, sekolah-sekolah lain pun ada kasus serupa namun tidak sesanter sekarang. Pembullyan sekarang marak dikalangan sekolah. Kenapa harus ada pembullyan? Untuk apa? Untuk keren? Untuk menunjukkan siapa jagoan? Pelampiasan? Semua itu tidak bisa dibenarkan. Manusia itu bukan binatang yang seenaknya kita pukul, ia punya hati.

Hal yang miris adalah faktor pertama yaitu sinetron sekarang. Banyak sinetron isinya tidak mendidik, seperti cerita tentang cinta-cintaan, tawuran, pembullyan. Kalian kira TV ini tidak akan membekas dihati anak-anak? SALAH! Anak-anak adalah peniru. Ia mudah meniru apa yang dilihatnya. Ia punya memori kuat, apalagi jika tidak diawasi oleh orang tuanya atau orang dewasa, maka akan sangat mudah menelannya daripada mencerna untuk apa kekerasan itu terjadi. Masih inget kan kasus SMACK DOWN yang memakan korban anak-anak? Gak mau terulang lagi seperti itu kan? Nah, faktor orang dewasa lah yang harusnya jadi pendidik dan pelindung untuk anak-anak.

Faktor kedua juga bisa jadi karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman, dan daerah sekitarnya. Orang tua juga harusnya mampu mendidik secara konsisten agar menciptakan peradaban yang mulia. Jangan sampai orang tua dua-duanya sibuk memberikan materi tapi akhlaknya NOL. Begitu juga dengan teman, ia terbiasa berkumpul dan belum bisa menelaah mana teman yang baik dan mana teman yang buruk dikarenakan mereka masih bocah. Pendek kata, semua ada akar permasalahannya. dan perlu diusut tuntas agar tidak ada korban bullying di tempat sekolah-sekolah.

Balik ke fenomena pembullyan, sebelum kalian saling menyalahkan pihak-pihak tertentu ada baiknya kalian merenungi diri. Sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk anak-anak? Sudahkah kita mendidik dengan sebaik-baiknya? Sebelum kasus ini merajalela, ada baiknya kita kontrol sekolahnya itu seperti apa, bagaimana sistemnya? Bagaimana kualitas gurunya? Bagaimana kondisi lingkungan sekitarnya? Itu semua harus kita ketahui sebelum memasukkan anak ke jenjang dasar. Jangan hanya melihat sekolah itu dari basis internasional, mahal, fasilitas banyak tapi tidak ada pendidikan dasar agama, tidak ada fondasi kuat dasar-dasar moral.

Aku berkata seperti ini karena aku pernah mengalami hal serupa semasa di Sekolah Dasar. Bayangin aja bersekolah di sekolah islam tapi moralnya seakan telah hilang ditelan bumi. Guru-gurunya mesum, wali kelasku sendiri pula.Tidak ada satupun guru yang mengetahui. Aku tidak ingat, tapi aku selalu ingat wajah-wajah mereka yang telah me-bully aku setiap harinya. TIAP HARI! Semua terjadi saat jam kosong atau istirahat. Sangat berbahaya untuk anak-anak. Anak model aku adalah anak yang punya kekurangan dalam hal pendengaran. Harusnya mereka menghargai aku, dan mengajak aku main. Tapi mereka mengejek segala kekurangan aku, dan dengan pelecehan-pelecehan oleh teman-teman lelaki kelasku. Sekelaspun mengeroyoki aku dan TIDAK ADA SATUPUN yang membantu aku. Bayangin gimana rasanya jadi aku? Sakit? Sedih? Kecewa? PASTI itu.

Makanya dari situ anak yang menjadi korban seperti aku akan selalu minder, penakut, pemalu, dan merasa tidak pantas untuk hidup. Sama sekali tidak ada harganya. Setiap kali jam kosong aku selalu nangis di kamar mandi, sakit perih. Aku lebih suka keluar kelas daripada di dalam kelas. Mencari teman yang bukan sekelas sama aku. Kalo mereka tau aku adalah anak pembullyan, pasti mereka akan ikut-ikutan mem-bully aku. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa sekejam itu. Mankanya selama di sekolah aku tidak pernah punya sahabat. Bagiku sahabat itu BULLSHIT! MU-NA-FIK!

Harusnya sekolah bisa menjadi rumahnya anak-anak dan guru jadi orangtua kedua selama di sekolah. Ternyata sekarang sekolah hanya mengejar uang. Masi ingat sekolahku SD dulu itu termasuk sekolah islam yang elit, terkenal, muridnya banyak sampe 300an lah. Sekarang membangun gedung tingkat, dengan nama gedung millennium. Saking banyaknya murid hingga guru lupa akan tugasnya. Banyak nasehat guru tapi tidak pernah mengena satupun ditelinga murid. Kenapa? harusnya guru itu pendidik, membangun peradaban manusia tapi yang didapat adalah guru yang hanya memberi soal, tugas, menerangkan materi, kadang ditinggal pergi gurunya rapat, dan sebagainya. Ia lupa bahwa muridnya ga cuma 1 tapi ada berapa ratus murid yang harus ia perhatikan.

Sebenarnya aku tidak menyalahkan sepenuhnya pada guru, tapi aku menyayangkan dengan yayasan sekolahku. Ia begitu buta dengan harta. Fasilitas ditambah, ruang kelas ditambah karena membludaknya murid baru tapi kualitas anak didiknya tidak diperhatikan. Untuk apa banyak murid? Aku kasihan sama guru-guru yang kewalahan mengatasi muridnya. apalagi muridnya yang tergolong bandel dan susah diatur. Bahkan mereka tidak tau psikologis murid-muridnya yang menurutnya ‘special’.

Saking elitnya, rata-rata anak disana tergolong menengah ke atas. Dulu emang sekolah tidak memperbolehkan membawa HP tapi dasarnya anak-anak bandel pada bawa HP. untuk apa? pamerkah? Aku dulu punya HP tapi ga berani pamer, kalaupun pamer pasti punyaku di banting mereka haha. miris sekali kan? Aku tidak tahu bagaimana nasib SD ku kini?

Selama di SD hanya penderitaan batinlah yang kudapat. tidak pernah ada peristiwa bahagia atau momen-momen seperti anak-anak lainnya. Berusaha bangkit dari keterpurukan memang sulit karena trauma masa lalu. Bahkan orangtua ku saja tidak tahu perlakuan apa yang pernah ku dapat saat disekolah. Pernah aku terbesit ingin berhenti sekolah karena perlakuan yang tidak adil itu, bahkan ingin kabur dari rumah. Segala yang ku adukan ke orang tua tidak pernah tersampaikan dengan jelas dan langsung menangis bombay haha.

Yah you know lah bully itu menyebabkan ketraumaan dan menyisakan luka yang teramat dalam. sampe sekarang masi trauma dengan kota kampung halaman. Apalagi menjadikan anaknya menjadi pendiam dan terkukung selamanya. Alhamdulillah aku bisa melewati fase suramku ini dan mampu keluar dari ketraumaan itu dengan perantauanku. Tapi jika harus ketemu teman lama yang pernah menyakiti aku, aku belum bisa memaafkannya. Dengan perantauan ku ini, aku tidak akan bertemu mereka lagi dan biarkan aku menghilang selamanya. Semoga teman-teman yang pernah mem-bully aku ini segera dapat karma.

Video ini membuka lembaran masa laluku. Aku tidak ingin anak-anakku mengalami hal serupa seperti ibunya. maka aku dari sekarang berusaha belajar agar aku bisa mendidik dengan sebaik-baiknya, kalau bisa bila tidak ada sekolah yang tidak memenuhi kriteriaku, yaitu: murid sedikit, sekelas max 25 anak, guru kompeten dan amanah, laki-perempuan dipisah, agama/ ilmu ketauhidan selalu ditanamkannya, maka dengan hal tersebut anak akan merasa diperhatikan, dihargai guru, dihargai teman karena temannya sedikit dan akan merangkul teman-teman yang ada. Jika tidak ada yang memenuhi kriteria, maka ku terpaksa anakku harus di homescholing dengan memanggil guru yang bener-bener berkualitas. Homescholing itu tidak buruk, sang ibu mampu mengontrol anaknya, masalah teman bisa diajak bermain dengan teman lainnya. Yang penting bagaimana pendidikan itu nyampe ke nurani anak-anak dan mampu menerapkan kehidupan sehari-hari kelak.

Buat adek-adek yang jadi korban bullying segera lapor ke orang tua dan guru, atau lapor ke orang dewasa yang dekat dengan kalian. Harapanku dari kisah ini semoga tidak terjadi lagi kasus pem-bully-an dan pelecehan di negeri ini apalagi di tempat pendidikan. Dengan melapor maka akan bisa di usut tuntas dan dapat ditindak tegas bagi yang melakukan kekerasan. Semangat semuanya bagi yang berusaha move on, kita tak sendiri kok ^_^ LA TAHZAN INNALLAHA MA ANA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s