Bandung on the street (part 2)

jangan terpaku pada kotak, keluarlah! maka kau akan melihat dunia

poster pameran museum KAA
poster pameran museum KAA

Cerita sebelumnya berada di alun-alun, di hari yang sama yakni tepat pada valentine, 14 Februari 2015 Saya menelusuri jejak bersejarah di kota Bandung. Di sebelah Gedung Merdeka, saya memasuki Museum Konferensi Aisa Afrika. Travelling ke tempat sejarah di kota perantauan emang mengasyikkan 🙂

Setelah dari alun-alun, saya yang sedari awal melewati museum Asia Afrika tergelitik dan penasaran dengan acara yang ada di museum itu. Ternyata mereka para volunteer dari berbagai macam kelompok ada pameran sesuai bidangnya, seperti bidang jepang yakni menerima informasi-informasi dari tentang beasiswa ke Jepang, kursus bahasa Jepang, dan kumpulan pecinta jepang. Ada juga bidang Esperanto, kelompok ini mengusung tentang bahasa internasional yang bukan dari Negara manapun, tapi bahasa persatuan internasional, udah banyak anggota yang tergabung di bidang Esperanto. Ada juga Tiongkok, disana diceritakan tentang seluk beluk Negara Cina, tentang imlek, dan serba-serbi warna merah lainnya.

Disitu juga ada stand pecinta lukis. Tapi karena panas dan standnya tidak berada di dalam, jadi saya hanya melewatinya saja. Di sana ada berbagai macam-macam buku tidak hanya bahasa Indonesia saja, tapi juga ada berbagai bahasa Negara lain, Cina dan Jepang misalnya.

Di stand ada tentang rajut, saya udah beli benang wol rayon dan jarum rajut yang ku beli ternyata lebih mirip ikat rambut kayu. Padahal harusnya beli jarum khusus rajut agar memudahkan belajarnya. Sayang ga beli bukunya, karena mahal, dan saya belajar di internet ajalah hehe. Sudah diajari disana, saya kok lupa teknik simpulnya. Gampang-gampang susah, padahal niatnya pengen bikin syal/ bandana -_-

belajar merajut bersama neng" geluis :D
belajar merajut bersama neng” geluis 😀
belajar merajut gampang-gampang susah hikss T_T
belajar merajut gampang-gampang susah hikss T_T

Dulu saya pernah ngajak temen saya untuk menjelajah museum, tapi selalu gagal dikarenakan dia sibuk kuliah, jadinya saya berkelana sendiri hehe. Ternyata ada untungnya juga, disana itu ada pameran kumpulan berbagai informasi tentang negara-negara lain. Selama ada pameran, saya tidak dilarang untuk memotret suasana dalam museum itu 😀 dan pameran diadakan tepat hari valentine hingga tanggal 16 Februari besok, jam 7 pagi hingga jam 4 sore.

Memasuki mueum itu tidak dipungut biaya. Selama berjalan kesana, kita disambut bendera-bendera dari Konferensi Asia Afrika dan beberapa foto tokoh delegasi KAA. Yang menggelitik, disana ada sejarah pembuatan Garuda Pancasila. Wow, menyenangkan sekali jika saya jadi tahu sejarah pembuatan lambang Negara, Garuda. Ternyata pembuatannya begitu rumit, dan itu dibuat oleah beberapa orang tim. Saya jadi terhanyut dengan suasana tempo dulu ini.

bendera negara peserta delegasi KAA
bendera negara peserta delegasi KAA

ini nih foto sejarah pembuatan lambang negara Garuda Pancasila:

selebihnya, datang aja kesana yak :p

Sebagai pecinta alam dan sejarah, selama belajar sejarah itu saya selalu ingat. Disitu terpampang foto Nelson Mandela, saya selalu ingat karena beliau adalah politisi penentang Apartheid (politik perbedaan warna kulit) dan juga pernah menjabat sebagai presiden Afrika kulit hitam pertama. Sayangnya sepeninggalnya, banyak yang tidak mengenal jasa-jasanya padahal dalam buku sejarah ada tokoh beliau tersebut. Miris.

kolase tokoh  para delegasi
kolase tokoh para delegasi

Tidak hanya museum, namun juga ada perpustakaan khusus tentang kenegaraan. Kebanyakan bukunya adalah berbahasa inggris dan latin, bahasa Indonesia itu jarang. Mau ga mau saya mencoba membaca berbahasa Inggris, lumayan mengasah bacaan inggrisku hehe. Disamping rak-rak, ada meja panjang dengan karpet, lelah saya berjalan tanpa henti akhirnya bisa juga duduk lesehan sambil membaca buku sejarahnya itu.

Di ruang tengah itu barulah museum-museum. Beberapa barang kuno juga dipajang disitu, diantaranya adalah beberapa perangko dan surat unik , lempengan piringan hitam berisi rekaman pidato bung Karno, kamera merek Lucia yang dipakai untuk wartawan dan alat pencetak foto, mesin ketik kuno, dan beberapa patung lilin peserta delegasi. Cukup luas untuk seorang diri disana.

meja pertemuan delegasi
meja pertemuan delegasi
tanskrip asli hasil akhir KAA
tanskrip asli hasil akhir KAA
piagam asli dari KAA
piagam asli dari KAA
mesin ketik tua
mesin ketik tua
piringan hitam berisikan pidato bung Karno
piringan hitam berisikan pidato bung Karno
bagian dalam museum
bagian dalam museum

Selama, ku masuki tempat pameran Korea. Ga nyangka ada beberapa buku tentang pariwisata korea pun ada, Sastra korea, sejarah korea, dan apapun tentang korea. Walau saya tidak tertarik dengan korea, tapi dalam penataan di pameran ini cukup apik. Mungkin anak pecinta korea yg tidak datang di tempat itu bakal nyesel kali, ya hehe. Di rak berjejeran macam-macam buku, disana ku temukan buku bacaan Braille. Baru sadar ternyata ada beberapa orang buta lagi membaca buku Braille yang disediakan disana, dan ada alqur’an versi Braille, masya Allah..

brosur berisikan voucher wisata, peta kereta bawah tanah, dan jalanan sisi korea
brosur berisikan voucher wisata, peta kereta bawah tanah, dan jalanan sisi korea
stand braille, dan beberapa org buta pun membaca buku
stand braille, dan beberapa org buta pun membaca buku
stand korea
stand korea

Disamping stand khusus korea, sebelahnya ada stand buku perpustakaan menteri dalam negeri. Saya di suruh untuk menulis di daftar buku tamu, padahal saya hanya mahasiswa yang iseng menjelajah di museum KAA ini. Sebenarnya banyak banget bacaan yang bagus-bagus, namun karena tidak bisa di bawa pulang yah saya hanya membaca sekilasnya saja. Cukup menyenangkan bagi seorang diri merayakan valentine hanya menjelajah sisi bersejarah di Bandung 😀

Sepulang, saya ingin menyeberang jalan, namun karena ramai akhirnya saya mencoba fasilitas jembatan penyeberangan. Disana ada beberapa pengemis yang tidur di pinggiran tangga dan pingiran pagar. Saya gak ngerti apakah mereka memang bener-bener pengemis atau pura-pura ngemis sepeti yang diberitakan, namun saya berusaha tidak bernegatif thinking. Saat saya menikmati jalan dari atas, saya melihat disamping anak kecil yang ortu jadi pengemis, umurnya sekitaran 1 tahun lah, tapi mirisnya dia main-main dengan lem yang katanya lem bisa membuat kecanduan. Entahlah saya tidak tahu kenapa lem bisa membuat sebagian anak kecil jalanan ini membuat kecanduan, dan apa dampaknya. Who knows?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s