Wedding Syar’i ? why not ;)

Menjadi Wedding yang Syar’i memang tidak mudah. Karena tidak semua orang termasuk keluarga besar itu memahami konteks yang syar’i itu seperti apa. Banyaknya budaya-budaya ini tidak sesuai dengan agama Islam. Sebenarnya pernikahan boleh memakai pakaian adat tapi harus sesuai dengan budaya yang islami. Jangan karena melestarikan adat, namun mengabaikan sisi islami yang harus kita pegang.

Belakangan ini diketahui ada beberapa kawan akhwat yang sehari-harinya ia memakai jilbab lebar-lebar, tapi sayangnya saat pernikahan atau saat jadi pagar ayu itu jilbabnya di lilit-lilit ke leher mengikuti kemauan sang perias. Padahal harusnya sang perias menuruti keinginan sang pengantin, bukan meng-kotak-kotaknya. Kita yang mengerti harusnya jangan cuma diam aja, tapi arahkan dengan lembut kepada periasnya. Karena bisa jadi mungkin periasnya tidak tahu dan hanya berdasar mode di sekitar, yang mereka tahu asal tidak ada rambut, beres!

Berdasar pengalaman saya selama menjadi pagar ayu, saya sering minder dengan bentuk ukuran tubuh saya yang mungil. Bagaimana tidak, menjadi pagar ayu artinya jilbab di lilit dibentuk-bentuk, dihias-hias, namun di baju seakan-akan saya tidak pake baju. Bajunya suka transparan dan suka membentuk warna kulit, otomatis saya terlihat kurus pucat karena membentuk tubuh tersebut 😥 dan menjadi pager ayu, berarti saya harus bertemu dengan banyak orang yang datang, memberi salam dsb. Apalah arti itu semua bila saya gak pake baju walau hanya pake baju seperti itu. Meskipun saya senang menjadi pagar ayu, karena senang dirias tapi ya gitulah, saya sering tidak menemukan kecocokan soal baju untuk pagar ayu tersebut.

Semenjak saya mengenal arti hijab yang sebenarnya, saya selalu memperhatikan mana yang perlu diperbaiki. Dan saya mencoba mengajak ibu saya agar tidak ikut-ikutan trend yang tidak sesuai syariat. Karena ibu saya adalah fashionista dibanding anaknya yang tomboy. Maka beliau selalu memperhatikan penampilan saya yang kurang cocok lah, kurang matchinglah, kurang begini-begitulah. Tapi akhirnya saya bisa memakai baju syar’i namun tetep fashionable sesuai keinginannya. Walau menurut sebagian kata orang saya agak kuno atau kuper hehe. Maka dari situ saya bertekad, jika saat nanti jadi pagar ayu lagi, saya harus tetep syar’i 🙂

Sebelum menjadi pager ayu, saya sudah mengatakan pada ibu saya, “ma tolong bilang ke orangnya, nanti jilbabnya tolong agak dilebarin paling gak menutupi dada, atau aku aja yang benerin sendiri”. Namun tidak semua perias memahami cara berfikir saya. Sehingga kadang juga saya sering agak sedikit cek-cok dengan perias jika saat saya diharuskan untuk menjadi pagar ayu. “ya jangan gitulah, ntar gak seragam,” begitulah yang sering mereka katakan. Saya berusaha nahan diri, bersabar dan mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ke perias tersebut, “gapapa mbak, wong warna bajunya juga masih sama”. Karena sama-sama ngotot, periasnya tidak mau membetulkan jilbab saya yang akhirnya saya harus bongkar sendiri jilbabnya agar dilebarkan sesuai syari’at.

Karena saya tergolong anaknya nekat, dan ngotot sehingga banyak yang sering mengatakan saya ustadzah, duh jauh meenn L. Walaupun saya berbeda sendiri di banding dengan pagar ayu lainnya, toh saya enjoy saja. Awal yang bagus untuk melakukan perubahan dan mencoba mengubah cara berpikir orang lain dengan apa yang saya contohkan tadi. Karena walau ibu saya telah di hijabi oleh perias sehingga menutupi dada, namun saya sering kurang sreg dikarenakan bagian belakangnya tidak ada hijab dan masih berpunuk onta. Punuk onta? Seperti apa itu?

pertama kalinya saya berani berhijab syar'i seperti ini saat jd pagar ayu :D
pertama kalinya saya berani berhijab syar’i seperti ini saat jd pagar ayu 😀
Kedua kalinya berhijab syar'i di pernikahan sepupu
Kedua kalinya berhijab syar’i di pernikahan sepupu

Menjadi pagar ayu kadang menyebalkan karena saat dirias itu suka di kerik alisnya, di kasi bulu mata palsu, dan tebal riasannya. Kemaren saya nekat tidak memakai bulu mata palsu, karena berat di pakai dan membuat saya tidak leluasa untuk melihat. Rasanya seperti orang ngantuk walau sebagian orang bilang saya cantik. Namun di foto mata saya tampak kurang tegas, tapi herannya kenapa si perias menge-lem mata saya, sehingga mata tampak melotot -_- kadang juga saya sering tidak pede dengan lipstick yang agak menyala, maka saya sering mengelap bibir dengan menekan saja. Dan riasan yang tebal ini, membuat wajah saya cepat mengkilap akibat minyak. Wajah saya memang berminyak, ngeselin karena bikin gatal dan berjerawat.

Karena itulah, saya sering berpikir bagaimana dengan pernikahanku nanti? Akankah saya harus seperti mereka? Akhirnya saya mencoba searching tentang hijab wedding syar’i. Alhamdulilah dapat dan cocok, namun saya edit, kemungkinan akan disesuaikan dengan adat saya. Walaupun tidak masalah kalau tidak sesuai adat, namun saya juga ingin melestarikannya dengan konsep yang islami 😀 Konsep islami yakni: semua pager ayu harus berjilbab syar’i (tidak transparan, menutupi dada, dan longgar), tamu cowok dan cewek dipisah (saya gatau apakah ribet ataukah mudah, karena belum pengalaman soal ini. Tapi itu lebih baik daripada adanya campur baur laki dan perempuan), musik sih boleh asal jangan dangdut, tamu tidak diperkenankan untuk merokok walau saudara sendiri, wajib ada kursi agar tamu makan tidak pada berdiri semua 😀

Tidak hanya menjadi pagar ayu dan pernikahan yang harus syar’i, namun saat wisuda yang memakai kebaya juga harus tetap syar’i . Pengalaman saya waktu wisuda semasa SMA, walaupun sekolahnya basic islami tapi sayangnya kurang islami. Saya yang memakai pakaian kebaya dengan kancing bulatan di belakang. Jika foto dari tampak samping, saya seperti alien, sungguh mengerikan! Saya yang kurus kering gitu pakai kebaya ketat, kepala besar berpunuk, jalan bagai robot karena songketnya sempit, Innalillahi. jika harus mengingat itu saya agak ngeri sendiri dan beberapa foto cetak pun saya sobek/gunting. Sugguh memalukan dan saya langsung diomelin ibuk,”fotonya kok di gunting sih! Kan buat kenang-kenangan! Piye sih kamu!”. Haha karena saya tidak peduli dan cuma diem aja, yang jelas sisa foto lainnya ada di soft copy.

Karena kuliah saya kurang satu setengah tahun lagi, maka saya harus mempersiapkan semuanya dengan baik agar kejadian wisuda tidak terulang seperti jaman semasa SMA. Qadarullah, insya Allah pasti akan dimudahkan apabila kita menolong agama Allah dengan cara yang sederhana seperti ini. Semoga keinginan saya ini tercapai, menciptakan masyarakat yang madani itu tak mudah. Semua harus dimulai dari diri kita sendiri, berani berbeda walau sendirian. Insya Allah orangtua akan selalu mendukung anaknya, selama kamu telah memberi pengertian kepada mereka. Seformal acaramu, bukan berarti gak bisa tampil syar’i, kan? 😉

So, teman-teman akhwati semua, jangan malu untuk jadi berbeda. Karena berbeda itu indah 😉

nb: sumber gambar dari fp kawanimut, dan foto asli pemilik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s