MENGENAL CINTA TANPA BATAS

Mengenai Cinta itu bermakna luas. Tak sesempit dalam kolong tempat tidurmu. Imajinasi boleh tercurahkan dalam tintamu, namun berilah batasmu agar tidak memaknai yang sia-sia. Jangan memaknai cinta itu sesempit pikiranmu. Luasnya pengalaman hidup itulah makna kekayaan sejati. Kenalilah cintamu, jangan biarkan ia pergi.. Semoga beberapa kisah kecil ini menginspirasi Anda semua🙂

CINTA ITU TAK MENGENAL USIA
Menikah dengan beda usia yang jaraknya terpaut jauh, jika telah berjodoh pun kita takkan kuasa untuk menolaknya. Kita tak boleh menolak takdir Allah yang telah ditetapkan, Seperti yang dikisahkan dalam tulisan ini..

Bapak saya tiap pekan selalu mengaji di masjid ta’lim As-Sakinah oleh ustadz Achmadi. Beliau telah lama menduda puluhan tahun lamanya. Usia beliau kurang lebih kayak kakek-kakek pada umumnya, namun ingatan tentang ilmu agama pun tak berkurang sedikitpun meskipun usia merenggutnya. Mbah Achmadi begitu saya memanggilnya, beliau orangnya tinggi, lebih tinggi dibanding bapak saya. Beliau orangnya santun, dan selalu mengunjungi bapak saya dengan mengendarai sepeda onthel tuanya.

Beliau pernah berhaji bersama bapak saya dan beberapa tetangga saya. Sepulang dari haji tersebut, kami sekeluarga dikejutkan bahwa mbah Achmadi akan menikahi guru TPA saya, ibu Anna. Ibu Anna waktu itu usianya mungkin 26’an, beliau pernah mengajar TPA di masjid Al-Ikhlash dekat rumah saya yang dulu di kontrakan. Karena jamaah ingin menghormati beliau, maka pernikahan sederhana pun sukses dilakukan. Di foto, tampak ibu Anna dengan malu-malu mencium punggung tangan mbah Achmadi usai mengucap akad.

Mereka dikaruniai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala seorang anak laki-laki bernama Hamdan. Anaknya cakep seperti bapaknya. Namun usia pernikahan mereka tidak berlangsung lama, mbah Achmadi jatuh sakit dan meninggal dunia. Kini ibu Anna menjadi janda dengan mengajar privat dan mengasuh Hamdan, anak semata wayangnya sendirian. Semoga Allah melindungi ibu Anna dan dikarunia pengganti yang baik untuk ibu Anna. Bagaimanapun, saya juga tidak tega melihat ibu Anna yang masi muda harus menjanda karena ditinggal mati suaminya.

Dari kisah tersebut saya teringat dengan kisah Rosulullah ﷺ menikahi dengan ibunda kita ummat muslim Siti Aisyah, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dimana pada saat itu Rosulullah ﷺ berumur 50 tahun dan Aisyah berumur 7 tahun, namun baru serumah saat berusia 9 tahun setelah masa haid. Menikah tidak membatasi perkara umur, namun menikah boleh dilakukan asal keduanya telah menginjak usia baligh dan memiliki tanggung jawab masing-masing pihak. Aisyah, masih belia tapi Allah mengkaruniakan beliau otak yang cerdas dan piawai. Aisyah juga menjanda saat berumur 18 tahun dan tidak dikarunia satu anakpun. Dari sini saya tidak tahu mengapa Aisyah tidak mempunyai anak dari baginda Rosulullah ﷺ.

Mungkin beberapa masyarakat menganggap hal ini adalah tabu, dan paling memalukan apabila menikahi usia yang jaraknya terpaut jauh seperti yang dilakukan oleh mbah Achmadi dan ibu Anna. Karena perbedaan zaman antara zaman Rosul dengan zaman kini, namun bagi saya, selama Allah tak melarang dan keduanya memiliki ikhtikad yang baik pun tidak masalah. Menikah itu untuk menghindari fitnah, itu saja. Karena mereka berdua adalah sama-sama pengurus masjid, mbah Achmadi adalah seorang imam dan khotib, sedangkan ibu Anna adalah guru ngaji anak-anak TPA. Yah, Semoga Allah mempertemukan ibu Anna dan mbah Achmadi di surgaNya kelak. Aamiin..

CINTA ITU TAK MENGENAL RUPA
Bisa jadi boleh kamu membenci sesuatu, namun itu sangat baik untukmu, begitupun sebaliknya. Sungguh rahasia Allah itu indah. Jangan karena rupa menghilanglah kebaikan semua di bumi, rupa itu hanyalah ujian untukmu. Bergembiralah! Tuhan pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untukmu, tak mungkin Tuhan menciptakanmu dalam keadaan tak ada jodoh. Jodoh itu pasti! Semua itu hanya masalah waktu..

Kisah si kakak A
Kakak sepupu saya ini adalah orang yang sangat rupawan. Banyak temen-temen saya yang menggilai ketampanannya, hingga berani meminta nomer HP dia ke saya. Saya mengangap ini adalah bonus sebagai adek, saya juga suka bercanda dengannya. Karena saya tak punya kakak, dan kuanggap dia sebagai kakak tersayangku😀

Kakakku ini orangnya tergolong telat nikah. Diantara teman-teman dan sepupu saya lainnya yang sebaya dengannya sudah pada nikah. Beberapa teman wanitanya yang pernah dia incar sudah pada menikah juga. Hingga suatu hari ia jenuh pacaran, dan minta saya untuk dicarikan jodoh untuknya. Saya yang masih cupu dan masih SMP pun tak mengerti gimana caranya mencomblang orang yang kebelet nikah.

“adakah gurumu yang cantik itu masih single?,” tanyanya dia pada saya suatu hari.
“ada kayaknya, tapi gatau uda ada calonnya atau gimana,” saya jawab asal.

Dia semangat sekali agar minta dikenalkan, namun saya enggan. Bukan gimana-gimana tapi saya juga tidak tahu harus bicara apa ke guru saya yang dia incar tersebut. Saya biarkan dia mencari sendiri, karena saya males untuk ngomporin dia agar segera menikah.

Beberapa waktu kemudian, saat saya kuliah pada semester pertama tiba-tiba dia telah menikah. Istrinya bukan seperti harapan kakak saya, yakni perfect. Kakak saya ini malah menikahi seorang janda beranak satu yang ditinggal pergi suaminya. Mereka saling mengisi satu sama lain, dan kakakku orang paling hebat didunia ini. Menerima kekurangan pasangannya, dan berani mengambil resiko.

Dia pernah menasehati saya, “lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta dek! Tuh buktinya saya!”😀

***
Kisah si kakak B
Kakak sepupu saya yang B ini juga sama telat nikah seperti kakak saya yang A, hanya bedanya dia memiliki rupa yang (maaf) kurang ideal bagi sebagian orang. Saya akui dulu semasa muda, kakak ini sebenarnya tampan. Karena kecelakaan merenggutnya, dia menjadi malas bergerak akibatnya badannya menjadi tambun dan jerawat yang membopeng.

Saya tidak terlalu dekat dengan kakak B, tapi dia bekerja di perusahaan orangtua saya. Bermula dia suka menggodai saya dan meminta saya untuk dicarikan calon. Seperti biasa, saya agak males mencarikan karena itu bukan tipe saya dan saya juga tak punya gudang cewek-cewek cantik. Walau dia tergolong telat nikah, Alhamdulillah Allah tak membiarkan hamba-hambaNya hidup sendirian.

Kakak B akhirnya menikahi oleh salah satu seorang guru SMP, dikenalkan oleh bulek saya yang juga teman seper-guruan atau teman ngajar di SMP. Wajah mereka benar-benar mirip, dan insya Allah pernikahan mereka barokah tanpa pacaran.

Manusia itu tidak ada yang sempurna, karena itu pasanganlah yang saling melengkapi.
Sebaik-baik rupa itu ialah yang berbuat baik kepada istrinya. Mudah-mudahan kakak-kakakku ini adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam membina bahtera ini. Semoga Allah meridhoi pernikahan mereka, aamiin.

CINTA SEPANJANG ZAMAN
Beberapa samudra pun terlah dilalui, menunggu dalam kepasrahan pada Allah Subhanahu Wata’ala hingga menuju keabadian. Ujian hidup kadang menyiksa batin, namun kau takpeduli seberapa peluh keringatmu membasahi fikiranmu. Hanya ingin melihat mereka bahagia, kau rela melawan rasa getirmu.

Adalah mbah Hj. Siti sumartinah biasa dipanggil mbah Sum atau mbah Uti. Mbah Uti adalah sosok yang paling mengagumkan bagi saya. Beliau wanita yang tangguh setelah ibu saya. Bagaimana tidak, beliau memiliki banyak anak 7 yang sebelumnya ada 13 anak. Beliau mengasuh banyak anak dalam keadaan menjanda. Beliau telah lama menjanda sejak ibu saya masih kecil, mungkin TK tepatnya dan dalam keadaan hamil anak yang terakhir.

Sungguh memiliki banyak anak kadang merepotkan bagi dirinya, selain menjadi kepala sekolah dan mengajar, beliau juga harus mengurus banyak anak. Sebagian anak-anaknya, beliau titipkan ke saudaranya, dan ada juga sebagian sekolah diluar kota. Secara pendidikan, beliau adalah lulusan pesantren Muhammadiyah Jogjakarta. Setidaknya beliau telah mengenyam pendidikan bangku sekolah.

Damiri Hardjoprayitno atau disebut Mbah Kung adalah suami mbah Uti yang telah lama meninggal akibat tetanus setelah tertusuk paku. Meninggalnya mbah Kung tidak mematikan cintanya pada beliau. Beliau tetap setia tanpa menikah lagi dengan diiringi sholat malam yang sering dilakukan dimasa hidupnya. Hingga di masa tuanya, beliau tetap cantik walau tubuhnya dimakan usia.

Beliau meninggal dunia saat saya masih SMP kelas 1, kejadiannya tiba-tiba beliau tidak bisa berbicara seperti biasa. Istilah awal mula gejala stroke malanda. Karena tempat tinggal beliau di desa dan di desa sulit mencari rumah sakit, akhirnya harus ke kota untuk mengobati beliau. Rumah beliau ada di Banyuwangi, jarak yang cukup jauh dari Surabaya tempat saya tinggal. Ibu saya panik dan menunggui beliau di rumah sakit selama seminggu. Ibu saya menyuruh saya untuk segera menjenguknya, namun sayang seperjalanan saya menuju Banyuwangi beliau telah meninggal sebelum saya mengucap kalimat untuknya.

Meninggalnya beliau juga dialami pakde saya, pakde Pung begitu saya memanggilnya. Bagaimana tidak budhe saya yang harus kehilangan ibundanya juga harus kehilangan suaminya pada hari itu juga. Suaminya meninggal dirumah dalam keadaan sendirian. Sebelum dikuburkan, budhe harus pulang kembali ke Sidoarjo bersama anak-anaknya. Sebuah cobaan untuk budhe saya, hingga kini budhe saya tak ingin menikah lagi karena masih mencintai pakde Pung.

Sebuah kisah yang sama, ibu dan anak yang lama menjanda namun bedanya budhe saya menjanda dalam keadaan anak-anaknya telah dewasa dan menikah. Sehingga sekarang beliau telah dikaruniai cucu, walau beliau beranak dua namun cucunya telah banyak.

Pernah dinasehatin oleh bapak saya saat nyekar di makam mbah Uti,”anak-anakku, jika kalian menikah nanti banyak-banyaklah anak dan didiklah sebaik-baiknya. Anak itu investasi akhirat untuk orangtuanya..”

Semoga cintamu selalu mekar hingga akhir zaman, hingga menutup usiamu. Disaat kini banyak yang kawin cerai, namun ada wanita tetap setia walau ditinggal mati sang suami. Wanita memang makhluk yang setia seperti siti Aisyah yang rela menjanda sepeninggal Rosulullah ﷺ , Subhanallahh. Belajarlah engkau dari orang-orang terdahulu ^_^

CINTA ITU BERANI SEHIDUP SEMATI
Cinta itu bukan masalah gombal-menggombal pasangan. Gombal hanyalah bumbu sebagian romansa ini. Jangan berani menerima cinta itu jika hanya belum berani ambil resiko.

Di ceritakan tentang sepasang suami istri, Soedarno dan Sarmiati. Mereka memiliki anak yang sangat banyak yakni 9 dan tinggal di rumah kayu serta memiliki warung makan. Memiliki anak yang banyak memang bukan perkara mudah, namun mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya untuk menjadi sukses. Diantaranya sudah ada yang lulus hingga perguruan tinggi.

Mbah No dan mbah Sarmi begitu saya memanggilnya. Mereka adalah kakek dan nenek saya. Mbah No memiliki watak yang keras, tidak segan-segan memukul anaknya jika nakal. Mbah Sarmi adalah wanita yang lembut dan cekatan. Walaupun mereka bukanlah orang yang berpendidikan dan masih buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Namun merekalah yang mengajarkan saya tentang cinta.

Tinggal dirumah kayu yang sederhana ini tak membuat cinta mereka surut. Dulu yang masih berlantaikan semen dan tanah, berkasur lapuk, berdinding kayu, berpintu selambu, dan memiliki sumur. Kini telah tergantikan oleh keramik, berkasur spring bed, berpintu kayu, dan berdinding bata. Walau kini telah berubah, namun saya senang pernah hidup dimasa itu, yang dimana sempat merasakan hidup susah.

Pada masa SD itulah awal mula kejadian saat di mana kakek saya jatuh sakit, stroke. Kecelakaan itu bermula saat kakek saya tepleset di kamar mandi. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dalam keluarga kami dan minimnya peralatan rumah sakit membuat stoke kakek ini tak bisa disembuhkan. Kakek menjadi lumpuh total dan hanya sebagian mulut, mata, dan tangan yang bisa bergerak walau sangat lemah.

Mbah Sarmi syok, namun beliau sangat tegar menghadapi cobaan yang mendera pada suaminya. Beliau tetap setia menyiapkan sarapan, memandikannya, menyiapinya, membersihkan hajatnya yang meluber di kasur. Jika kakek muntah, beliau menggosoknya dengan minyak. Beliau bertahan hingga beberapa tahun lamanya, tetap setia dengan segala rutinitas hariannya sembari menjaga warung. Beliau mengurusnya sendiri karena tak ingin membiarkan anak-anaknya kerepotan mengurus kakek, dan beliau tahu bahwa anak-anaknya telah memiliki keluarga sendiri walau anak-anaknya telah menawarkan diri. Sungguh sebuah perjuangan yang patut ditiru, ikhlas tanpa balasan.

Hingga menjelang saya SMA, kakek menghembuskan nafas terakhir. Saya tidak tega melihatnya sakit bertahun-tahun, namun nenek tetap setia disampingnya. 3 hari kemudian setelah meninggalnya kakek, nenek akhirnya ikut menghembuskan nafas yang terakhir, walaupun nenek tidak mengalami keluhan apapun. Sungguh Allah hanya menguji sebagian orang beriman, menguji kesetiaan mereka berdua agar dicontoh oleh anak-anaknya dan cucu-cucunya.

*teruntuk almarhumah kakek dan nenek saya di peristiratan yang terakhir di Kediri, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, dan memberikan peristirahatanmu di tempat yang terbaik. Aamiin.

CINTA ITU TAK MENGENAL MAPAN
Kemapanan itu hanya relative, tapi yang dilihat adalah perjuanganmu untuk meraihnya. Cinta itu perlu bumbu, bumbu cobaan itu salah satunya. Jika hanya kenikmatan yang didapat tanpa rasa pengorbanan maka kita takkan tahu seperti apa rasanya berjuang.

Sebelum bapak menikahi ibu saya, bapak muda dulu sama seperti pemuda-pemudi lainnya. Senang ngapel malam minggu di tempat kos ibu saya. Mereka kuliah di tempat yang sama, UNAIR (Universitas Airlangga) namun berbeda jurusan. Ibu saya bidang Akademi Gigi (D3), sedang Bapak saya bidang Kesehatan Masyarakat. Dua insan bertemu secara tak sengaja di sebuah acara besar kampus. Mereka memiliki kesamaan dalam organisasi, ibu saya masuk IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), sedang Bapak saya adalah pendekar Tapak Suci, dan pendiri Tapak Suci di UNAIR.

Memiliki background agama yang sama menyatukan mereka. Karena lama pacaran ibu saya mendesak bapak agar menikahinya. Namun bapak menolaknya karena belum mapan dan harus membiayai sekolah adik-adiknya ke perguruan tinggi. Karena ibu saya tidak ingin berlama-lama pacaran, akhirnya ibu saya terpaksa harus memutuskan bapak, “Sampai kapan saya harus menunggu hingga adekmu lulus? 5 tahun? 10 tahun? Adek-adekmu kan banyak? Mana bisa saya menunggu segitu lamanya!”. Ibu meninggalkan bapak dengan kegamangan dan kegalauan yang teramat dalam.

Ibu saya mulai dikenalkan dengan beberapa calon, salah satunya adalah seorang Angkatan Militer. Mereka hampir menikah, namun tak jadi karena ibu saya tak sreg dengannya walau rupa itu bisa memikat hatinya. Dan ibu mulai menunggu jodoh datang..

Karena rindu, bapak nekat ngapelin ibu saya. Menanyakannya apakah sudah ada calonnya atau belum? Didorong oleh ibu saya agar bapak berani memutuskan yakni menikahinya atau meninggalkannya. Karena tidak mau kehilangan kedua kalinya, akhirnya bapak saya berani memutuskan untuk menikahi ibu saya dalam keadaan tak punya apa-apa. Banyak yang membantunya agar Bapak dan ibu bisa menikah. Subhanallah, Sungguh perjuangan mereka dimulai saat mereka menikah.

Hingga saat saya lahir, saya merasakan hidup susah. Orangtua yang berjuang mencari nafkah, ibu membuka usaha catering, dan klinik gigi palsu. Serta bapak yang bekerja di pabrik Pocari Sweat. Rela berhutang agar nasi tetap ngepul di dapur, dan kebutuhan anaknya terpenuhi. Sempat di tipu orang dengan uangnya dibawa lari. Hingga beberapa bulan bapak resign dari tempat pabrik untuk membuka usaha baru di bidang kesehatan. Setelah resign dari pabrik, hidup bapak dan ibu mulai berubah menjadi lebih baik.

Dari hidup di kontrakan, menerima orderan harus rela minjem telepon di tetangga sebelah hingga memiliki rumah sendiri. Adik saya si bungsu, Zulfan lahir dalam keadaan orangtua sudah hampir mapan, sudah memiliki usaha baru, rumah baru, dan kendaraan baru. Alhamdulillah Allah mengkaruniakan rejeki untuk keluarga kami, dan bahwa saya menjadi tahu menikah itu berarti memperluas rejeki😉

Saya mengajak si bungsu untuk menelisik rumah kontrakan lama kami saat jalan pagi. Saat saya menyapa orang-orang disekitar, hampir saja saya melupakan mereka namun mereka masih mengingat saya. Sejak ibu dulu bekerja, saya kecil dulu diasuh oleh tetangga ibu-ibu RT. Saat bertamu, “berapa bersaudara sekarang? Wah ini ya si kecil? udah besar ya”. Decak kagum mereka melihat adek saya yang telah tumbuh besar, Faris. Si kecil itu adek saya yang pertama, Faris sewaktu tinggal di kontrakan. kami diciuminya, disalaminya berkali-kali, antara rindu dan haru karena tidak menyangka kami sekeluarga bisa menuju ketempat yang lebih baik.

Menikah sebelum mapan itu membuat sang anak akan mencicipi rasa pahitnya kehidupan. Hidup itu keras dan harus tetap berjuang. Sebelum bisa hidup enak, kita juga harus rela bersusah-susah dahulu. Karena dari situ, saya malu untuk sombong. Untuk apa sombong, kalau di masa lalu kita pernah seperti mereka diluar sana😉

CINTA ITU BERARTI MENERIMA KONSEKUENSI
Menikah itu bukan hanya bersatunya dua insan, namun lebih dari itu. Menikah belum tentu saling memahami kondisi tiap pasangan. Selalu ada hambatan dalam membina bahtera rumah tangga, tapi Allah pasti akan menunjukkan jalan keluarnya bagi yang bersabar..

Sejak saya kuliah di Bandung, krisis keuangan dan kepercayaan pun menghampiri di keluarga kami. Bapak tiba-tiba memiliki ambisi sama seperti para politisi lainnya, menduduki jabatan di DPR. Sungguh kami sekeluarga tidak setuju jika bapak masuk DPR. Saya tak ingin hilangnya kasih sayang bapak di keluarga kami dengan kesibukannya di DPR. Ketika bapak berceloteh tentang keinginannya, saya hanya bisa diam. Karena sifat saya dan bapak sama, saya hanya berusaha nahan diri untuk tidak ngotot mengatakan “TIDAK BOLEH!”.

Karena bapak orang terpandang di lingkungan saya, banyak orang-orang menawarkan jabatan untuk bapak. Alasan bapak mau menerima tawaran itu bukan karena uang, tapi ingin memperbaiki undang-undang yang amburadul di masyarakat saat ini. Walau bapak tahu cara mengambil hati masyarakat itu tak lepas dari pencitraan. Dan saya menjadi tahu cara busuk politisi mengambil hati rakyat, yakni money politics.

Sejak bapak kesandung suatu kasus yang melibatkan perusahaan bapak, bapak terpaksa di tahan atas tuduhan faktur pengadaan barang. Sempat sekeluarga syok karena bapak sebelumnya tidak begitu terlibat dengan kasus-kasus lainnya. Bapak mengatakan bersumpah tidak bohong, dan itu semua hanyalah permainan mereka. Ditahannya bapak memuat Koran lokal yang tidak ingin saya melihatnya. Ibu saya hanya menangis, banyak tetangga menggunjing keluarga kami. Walau di belakang mereka busuk, tapi di depan mereka tetap menghormati ibu saya.

Sepeninggal bapak, ibu saya harus menggantikan kepemimpinan perusahaan bapak. Memberi pengarahan karyawan agar kuat menghadapi cobaan, menghadapi pengacara, menghadapi utang piutang kredit bapak, dan pengeluaran untuk pendidikan anak-anaknya. Ibu saya menghadapi cobaan sendirian, disaat saya dan adik-adik saya jauh darinya demi menimba ilmu. Ibu saya tidak memiliki teman curhat, karena ia tahu semua orang hanya membicarakannya. Curhatpun hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Krisis keuangan melanda karena utang-pitang kredit bapak yang besar, beberapa tanah dan mobil pun terpaksa dijual. Bapak awalnya tidak setuju harus menjual asetnya, namun dengan pengertian dan kesabaran ibu sayalah akhirnya asset yang terjual bisa kembali lagi dengan diganti yang lebih baik. Ibu saya adalah pengelola keuangan yang baik, karena pernah kuliah S1 di UNTAG (Universitas 17 Agustus) setelah kuliah di UNAIR.

Sejak utang kredit membengkak, ibu saya terpaksa menutup semua akun-akun kreditnya dan menggantinya ke bank syariah. Bapak awalnya tidak mau mengganti ke syariah, namun ibu saya selalu sabar mengahadapi bapak yang keras kepala. Ibu saya tidak banyak marah seperti di sinetron-sinetron lainnya. Ibu hanya memberi pengertian pada bapak pelan-pelan, inilah poin penting kehidupan. adakalanya bahwa hidup tidak selalu diatas tapi juga pasti naik surut. Penderitaan pasti berlalu dengan ijin Allah.

Disaat banyak politisi yang kesandung korupsi, banyak pula para istri meminta cerai karena tidak tahan menanggung malu dengan kasus suaminya tersebut. Padahal mereka harus belajar banyak pada ibu saya😀

“anakku, jika kamu bersuami nanti. Kamu harus menerima konsekuensinya. Selama kamu milik suamimu, kamu harus mematuhinya selama ia taat pada gusti Allah. Inget itu anakku..” nasehat ibu terngiang di telingaku..

Ini hanya sebagian kisah kecil yang pernah hadir dalam hidup saya. Banyak kisah cinta lainnya yang belum di bahas dalam cerita ini. Semoga ini bisa menjadi ibrah bagi kita semua yang belum bisa memaknai cinta yang sesungguhnya. Cinta itu tak mengenal batas, dan bukan sekedar berkasih sayang layaknya orang pacaran. Allah mengaruniakan kita cinta untuk dipahami, bukan sekedar hal gombal-menggombal, saling tukar coklat, dsb. Malu jika cinta itu hanya dimaknai bertukar coklat dan kondom, artinya cintamu itu murah untuk di obral!

nb: sumber gambar dari fp kawanimut

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s