Bangku mu, Bangku ku juga

Ketika semua berlalu, biarkanlah berlalu hingga terbitnya sinar mentari. Angin masa depan pun menutup bunga kisah di masa lalu yang pernah mengukir sejarah dimana temen yang paling kamu benci itu bisa jadi temen yang paling kamu sayang.

Dikarenakan semasa SD saya jarang langgeng dengan teman sebangku. Semua selalu berakhir dengan pertengkaran yang memaksa kita berpisah. Seperti yang diceritakan sebelumnya, karena pertengkaran tak kunjung reda hingga wali kelas saya kebingungan dan menggantikan saya untuk sebangku dengan gadis tambun berkacamata yang lagi duduk sendirian.
“ih sejak kapan aku sama kamu hah??” gertaknya dia
“bodo amat, siapa juga yang suruh kamu pindah!” geram saya

Awal mula sebangku, kami berdua sama-sama tidak mau. Karena kelas telah penuh terpaksa kami sebangku. Awal tidak mau saling sapa, dan saling cuek hingga suatu hari pelajaran mendikte. Karena pendengaran saya kurang, terpaksa saya harus mencontek soal pelajaran di samping saya, “ih apaan liat-liat! Mankanya dengerin dong!!”. Kalimat terakhir ini buat saya sangat sakit. “kamu itu gatau bersyukur, uda gitu sombong pula!,” gertak saya.

Bersama dia, Kadang baik kadang berantem, hingga saya masuk SMP. Saya tidak menyangka bakal di satu sekolah lagi, sekelas pula. Agak menjengkelkan, walau pertengkaran semasa SD hanya berlangsung setahun, saat kelas 5. Namun kepribadiannya membuat saya tidak melupakannya, antara gemes dan jengkelin.

Di SMP ini memang tidak ada bangku-bangku sebagaimana sekolah umumnya. Meja dan bangku lebih membaur menyatu, kadang dibuat sesuka hati mirip bangku anak TK hehe. Karena tidak ada istilah teman sebangku, sehingga kami bisa duduk bebas dimanapun saya suka. Beda dengan SD harus pake peraturan bergilir. Sistem SMP yang unik, saya agak menjauh dari dia dan mencuekin dia sendirian di pojok.

Suatu hari saya kedapatan duduk disebelah dia, karena kasihan melihat dia sendirian seakan tidak ada teman ngobrol lalu saya mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana,”kamu kok diem zah! Nulis apa ko?”. Azizah itulah namanya. Dia berkacamata, tambun, dan lumayan agak cantik kata saya karena mancung khas arab hehe. “eii jangan liat-liat la, apasih kamu!,” marah dia sambil menutup bukunya.

Walau pertengkaran saya dengan dia selalu mewarnai tiap kali saya berpapasan dengannya. Namun saya selalu menyayangi dia sebagaimanapun adanya. Saya kadang sedih melihat dia menyendiri dan selalu berkaca di depan cermin, membetulkan jilbabnya padahal menurut saya sudah rapi. Berjam-jam lamanya di jam istirahat, dan terpaksa anak-anak sekelas menutup cerminnya agar dia tak bercermin.

“sini zah, main!,” ajak saya main. Melihat saya mengajaknya bermain membuatnya senang. Saya senang liat bola-bola mata beningnya yang berbinar. Tidak hanya bermain, kami juga saling bercerita.

“eh bapakmu kerja dimana?”
“abahku sudah meninggal sejak aku masih kecil, aku dirumah budheku. Budheku uda kuanggap sebagai mamaku”
“lah mama kandungmu kemana?”
“ya di Bali sama adekku”

Begitulah kami bercerita, hingga saya menelisik tentang keluarganya. Kepribadian dia yang lugu, gaya tulisannya yang khas, dan tiap kali menulis selalu memonyongkan bibirnya. Mirip seperti anak kecil yang lagi belajar nulis, begitulah ekspresinya.

Orang yang introvert seperti saya atau dia, selalu membuat orang lain penasaran. Seperti saat kerja kelompok yang kedapatan satu kelompok dengannya. “eh bagaimana kita ngerjain tugas dirumahmu zah?,” usul saya. Semua anak-anak setuju dan berada dirumahnya yang daerah perumahan, banyak sekali boneka Barbie yang tidak saya suka. Saya sudah tidak bermain boneka lagi sejak SD, jika ada boneka apalagi Barbie itu bagi saya nggilani. Kekanak-kanakan😀

Dia sangat menyukai kartun semacam produksi walt Disney, seperti frozen, Barbie, rapunzel, dan sebagainya. Dia adalah anak plagiat saya. Semua tingkah laku saya diikuti agar diterima oleh sebgaian orang. Kadang saya juga merasa risih jika ada yang mengikuti tingkah laku saya. Ah, Zah! Berpendirian dong! Gerutu saya dalam hati.

Saya yang masih ababil dan sangat menyukai ke-punk-an, memakai gelang ban hitam tipis yang agak banyak, tapi saya hanya memakai 3 gelang saja. Besoknya saya tidak menyangka dia mengikuti saya, memakai gelang ban hitam dengan sangat banyak! Wow..

Sebelum gelang, saya pernah beli binder ber-tiga dengan Icha sepulang sekolah. Bindernya unik, disisinya ada garis melengkung. Kami kembaran dengan binder tersebut walau dia membeli yang agak girly. Girly kok nge-punk sih!

Dia lebih mengikuti gaya saya secara materi, tapi secara fisik dia agak ngalem. Menyeberang sungai bersawah atau rawa aja masih cupu. Kegiatan anak tomboy seperti saya itu mudah dilakukan, tapi bagi dia agak berat dan harus di bantu oleh teman-teman lain.”aku gak bisa.. aku gak bisa..,”jerit dia sambil menggeleng kuat. Hadeeh, susah punya temen kayak gitu.

Yang paling menghebohkan di kelas, dia menulis sesatu di sobekan kertas dan bocor oleh anak lain. Hal itu diketahui karena gaya penulisannya yang khas. Dia tidak mudah meniru cara menulis orang, walau dia suka meniru gaya orang, missal mencoba menulis menggunakan tangan kiri. Membocornya sobekan kertas itu sangat saya sesalkan sekaligus sedih. Andai itu bocor ditangan saya, saya tak mungkin membocorkan aibmu di depan orang-orang. Saya tahu kamu pasti malu menanggung itu semua.

Sepeninggal saya meninggalkan bangku SMP, akhir SMA saya mulai ketemu facebooknya dia. Mulai bercakap dan bercerita di chat.

“hey Azizah, apo kabar euy?”
“baik Nis, kamu gimana? Uda ada pacar belum?”, hadeeh kenapa tiba-tiba dia ngomongin saya tentang cowok? Gumam saya dalam hati
“gak lah, aku gak ada pacar kalee”
“apaan, kamu kan langsing, cakep. Masa gak laku-laku sihh. Kadang aku iri sama kamu, aku kan gak bisa kurus”
“apa’an sih lu! Mau dicari’n apa??”
Begitulah percakapan saya via chat selepas lulus SMP dan memasuki gerbang SMA. Kami tidak pernah ber kontakan dengannya dikarenakan kesibukan saya dan dia. Hingga menjelang kelulusan SMA, saya akhirnya bercakap dengan dia lagi.

“woi zah! Sombong lu gak ngabar-ngabari”
“apa’an kamu yang jarang chat aku”
“halah-halah. Lo inget gak kita pernah berantem loh!”

Saya mencoba mengingatkan dia agar menjaga ucapannya, dan mencoba membuka kenangan kami berdua,
“masa sih? Sejak kapan aku suka marah-marahin ke kamu?”

Saya tak tahu apakah dia pura-pura amnesia atau cuma sekedar memancing saya. Yang saya tahu saya merindukan dia. Kangen berantem dengan teman sebangku. Saya yang membencinya pun kini merindukannya. Sejak lulus SMP, dia tak pernah kembali lagi. Dia kembali ke kampung halamannya, Bali. Melanjutkan sekolah SMK jurusan memasak.

Saya tiap kali mengkontak dia selalu bahasannya tidak jauh-jauh dari kata cowok atau jodoh. Agak membosankan memang. Saya masih SMA kenapa masih ngomongin jodoh? Apa hubungannya coba? Herannya saya dalam hati

“Nis, uda ada cowoknya belum?”
“jangan lupa kalo nikah beneran, undang-undang yak!”, dan sebagainya.

Kini saya tahu kenapa dia selalu membicarakan hal tersebut. Mungkin karena banyak beberapa temen SD saya sudah pada menikah selepas SMP. Saya tidak tahu apakah mereka melanjutkan SMA. Yang saya tahu, menikah di usia menurut saya yang pantas adalah selepas SMA. Tapi nyatanya tidak. Mereka menikah bukan karena seperti yang diberitakan, yakni MBA. Namun temen saya SD berbeda. Sejak mereka menikah, mereka telah memakai cadar! Saya terheran-heran, bertanya-tanya dalam hati. “selepas dari SMP AL-Izzah, kamu sekolah lagi dimana? Kok bisa pakai cadar??”

Dua orang yang menikah ini adalah sepupu juga, dan dua-duanya memakai cadar. Mereka telah dikarunia anak yang dimana saya harus berjuang untuk kuliah. Di saat banyak yang nikah muda karena MBA, namun mereka menikah demi sunnah. Subhanallah.

Melihat anak-anaknya dia yang lucu-lucu, membuat saya jadi pengen punya anak juga. Tapi karena orang tua saya selalu mengedepankan pendidikan, tidak boleh nikah muda, tidak boleh pacaran juga membuat saya agak sedih. Yah gimana nikah muda tak boleh, apalagi pacaran. Saya sempat mebuat pilihan pada orangtua saya,”mending saya pacaran aja kalo gak boleh nikah! Susah amat sih!”.

Padahal orangtua saya dulu juga menikah dalam keadaan masih kuliah. Duh, kenapa harus menghalangi anakmu untuk menikah? Mencarikanku pun tak mau. “duh belajar yang bener, nak. Lulus baru boleh nikah”. Saya tahu orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ingin anaknya repot mengurus rumah tangganya semasa kuliah. Tapi masa harus sampe segitunya? -_-

Yah saya cuma bisa bersabar, dan itu cuma masalah waktu saja. Jujur saja, Saya bosen menjomblo sekian lamanya dan pengen punya gandengan. Tapi saya juga risih kalau harus pacaran lagi. Malu sama rok dan hijab yang saya pakai. Saya mencoba menutup tentang harapan itu. Biarlah hidup berjalan sebagaimana adanya.

Harapan berbeda dengan do’a. jadi saya hanya berdo’a tapi tak berani berharap. Karena semakin saya berharap semakin jauh dari kenyataan. Tapi Zah, lu jangan ngomporin gue buat nikah. Mending lu aja yang nikah n ngundang-ngundang gue. Ini bukan perkara siapa cepat, tapi ini perkara sehidup semati!

Mempunyai teman yang menyebalkan seperti dia itu ada kenangan tersendiri bagi saya. Sesebal-sebalnya saya dengan dia, saya tetap menyayangi dia. Semoga Allah melindungi dia dimanapun ia berada. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s