Nasib Bangsa ada di dalam genggamanmu

My Teacher’s diary
My teacher, Kim
Anak-anak langit
Laskar pelangi, dst

Diatas adalah beberapa film dan novel yang berlatar belakang tentang seorang guru yang mengajar di negeri pelosok, negeri yang jauh dari nyamannya kota. Mereka memberi inspirasi dan menjadikan saya tergerak untuk mengabdi pada Indonesia. Indonesia adalah negeri yang dimana memiliki banyak pulau dan beraneka ragam ras, suku, bahasa, dan budaya. Sebuah keunikan yang tidak bisa dimiliki oleh negara lain, namun sayangnya di pelosok negeri Indonesia masih ada beberapa pulau yang belum terjamah tentang peradaban maju ini. Sebuah peradaban yang menentukan kecerdasan dan perekonomian suatu bangsa.

Bapak adalah seorang pendorong. Beliau sangat antusias apabila mendengar saya mengajar, terutama TPA. Beliau mendukung dan mensupport saya agar terus berjuang dan tak letih untuk mengajar anak-anak. Background keluarga besar saya memang seorang guru. Nenek saya dulu juga seorang guru dan kepala sekolah, sepupu-sepupu saya juga pernah menjadi guru di sebuah sekolah, belum lagi beberapa budhe dan pakdhe sebagian juga seorang guru. Dan Bapak juga adalah seorang guru Tapak Suci di sebuah universitas. Mengajar memang suatu yang mulia, melepas ikatan dunia agar mereka mampu menggenggam sebuah mimpi.

Kembali berkaca pada Indonesia. Indonesia yang memiliki luasnya beribu-ribu pulau namun tidak semua masyarakatnya terjamah teknologi. Ada beberapa daerah pelosok yang sangat membutuhkan bantuan kita untuk memerdekakan mereka secara lahiriah. Sebuah kata merdeka pun sebagai penopang semangat. Merdeka dari kebodohan dan kemelaratan. Agak berlebihan memang tapi itulah kenyataannya, masyarakat masih primitif dan tidak mengedepankan pendidikan. Bagi mereka yang penting bagaimana cara mendapatkan uang untuk makan.

Para orangtua hanya ingin anak-anaknya membantu mereka untuk mendapatkan uang. Namun mereka merampas hak anak dalam pendidikan yang seharusnya mereka cicipi. Sungguh sebuah ironi, anak-anak hanya terpaku pada takdir yang mereka hadapi. Padahal dengan kesungguhan dan ketekunan, kita bisa merubah takdir bukan dengan hanya berpangku tangan lalu kita hanya menerimanya dengan nelangsa atau pasrah. Bukan!

Setelah membaca buku Anak-anak Langit, agaknya saya semakin penasaran dengan sosok Anies Baswedan. Saya sering mendengar namanya di medsos ataupun TV tapi tidak pernah mengenal dengan baik sosok tersebut, karena saya adalah tipikal orang yang malas mendengar gossip. Yang kutahu beliau adalah rektor Universitas Paramadina dan baru kali ini ku ketahui bahwa ia pendiri Yayasan Indonesia Mengajar. Masya Allah, sungguh niat yang mulia. Dari ini saya sangat tertarik untuk bergabung di Indonesia Mengajar selepas lulus nanti. Mudah-mudahan Bapak meridhoiku..

Sebelum melanjutkan, saya dulu pernah mengajar di sebuah TPA pelosok. Karena saya tergabung di organisasi KAMMI dan kampus saya berada di daerah kabupaten yang dimana jauh dari hiruk pikuk kota, maka tak heran rumah warga pun hanya ala kadarnya. Musholla tempat kami mengajar itu jauh dari kata ideal. Tidak ada meja, tidak ada mukenah, yang ada hanya papan tulis, spidol, dan buku tulis. Pintu jebol, dan beberapa langit atap serta tembok juga kusam, berlantai semen dengan ditutupi karpet sholat. Sungguh suatu hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Terlepas dari itu semua, dahulu memang musholla tidak pernah terurus. Ada beberapa senior pemuda KAMMI dulu tergerak untuk menghidupkan kembali musholla, dari sini terbentuklah divisi Pengmasy (Pengemban Masyarakat) yang tidak hanya mengajar namun juga harus mensosialisasikan penduduk desa sekitar musholla agar menyadari pentingnya anak bisa mengaji. Mensosialisasikan penduduk sekitar memang susah, karena orangtua mereka tidak memiliki waktu dan mereka menyerahkan anak-anak kepada kami untuk belajar mengaji.

Sebenarnya, sosok guru tiada arti apabila tanpa adanya campur tangan dari orangtuanya dirumah. Sosok orangtua lah sangat penting bagi kehidupan anak. Sangat disayangkan apabila guru harus mendidik seharian di sekolah namun dirumah mereka tidak mengajarkan apa yang seharusnya dipahami oleh anak. Rasanya percuma, anak-anak akan menganggap itu hanya angin lalu. Saya akui dulu sering kesulitan untuk mengajak anak mengaji. Sering ditinggal main bola, ijin ambil buku tapi tidak kembali lagi, belum mandi, males, dan sebagainya. Benarlah sebuah perjuangan bagi seorang guru TPA yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, mengajar hanya secara cuma-cuma selama setahun penuh masa kepengurusan.

Perjuangan semakin terasa saat sang guru datang ditempat mengajar, namun tidak ada anak-anak. Karena itulah seorang guru harus berperan aktif dengan mendatangi rumah muridnya satu persatu, menjemput mereka dan mengajak mereka belajar mengaji bersama. Saya tahu, orangtua mereka berharap anak-anak mereka jadi anak yang sholeh-sholehah tapi orangtua jarang mendidik anak-anak mereka tentang pentingnya belajar ilmu agama. Sungguh miris.

Seperti dalam film My Teacher’s diary, kesedihan seorang guru melihat salah satu muridnya tidak masuk sekolah. Ketika berkunjung ke rumahnya, orangtuanya berkata bahwa anak itu harus bekerja membantu orangtua, dan tampaknya mereka mengesampingkan pendidikan anaknya. Sedihnya lagi, anak-anak itu ingin putus sekolah demi membantu orangtuanya. Ketika ditanya tentang mimpi mereka. Mereka tidak berani menggenggam cita-cita yang tinggi itu hanya karena keterbatasan mereka saat itu. Mereka terkurung dengan pemikiran para orangtua, “percuma sekolah, kalau cari duit gak bisa!”.

Mengajar memang butuh kesabaran, ketelatenan. Jujur saja, selama mengajar disana, saya sering di tertawakan oleh anak-anak dan mereka sering tidak memahami apa yang saya sampaikan. Sedih menyayat hati, baru ku ketahui karena saya tidak bisa menghilangkan medok jawa saya ini maka mau tidak mau saya juga harus belajar bahasa mereka. Naon, maneh, eta, bla bla. Walau tidak berhasil, namun saya sangat bangga akan antusiasme mereka untuk belajar mengaji. Itu sudah sebuah reward bagi saya.

Tepuk anak sholeh!
Aku, anak sholeh.
Rajin sholat, rajin ngaji,
orangtua dihormati,
cinta islam sampai mati.
Laa ilaaha illallah muhammadar Rosulullah.
Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah.

Tepuk semangat!
Yes! (tepuk tangan Plok3x) Yes! (tepuk tangan Plok3x) Yes! (tepuk tangan Plok3x) Allaahu Akbar!

Sebenarnya saya tidak mengajar mereka, namun merekalah yang mengajar saya tentang kehidupan. Belajar disiplin waktu, belajar menghargai waktu, belajar memahami karakter mereka, belajar menjadi anak kecil yang selalu ingin tahu. Sungguh sebuah pelajaran yang tak bisa dibeli di tempat manapun. Maka tak heran, semua dukaku terhapus apabila melihat kebahagiaan mereka, canda tawa mereka, celoteh mereka. Mereka sudah kuanggap adikku sendiri, adik yang penuh cinta dan kasih sayang. Rasa letih hilang melihat antusiasme mereka, walau sedikit murid tetapi tingkah laku mereka kadang diluar batas kontrol saya. Terkadang saya letih mengatur anak-anak untuk tertib, terlebih lagi suara saya juga kecil tentu akan membuat saya sangat kerepotan, belum lagi saya juga harus mengajar sendiri apabila teman-teman sepengurusan pada sibuk. Benar-benar perjuangan yang sangat berat dan melelahkan, karena tidak hanya mengajar di satu tempat, tapi di 2 tempat pada waktu yang berbeda.

“hey kalian mau kemana?”
“keluar kak! Mau naruh buku yang dipinjam”

Kalimat diatas adalah saat dimana saya harus berhadapan anak-anak yang nekat ingin pulang padahal jam mengaji belum habis. Hari itu saya harus ekstra sabar menghadapi anak laki-laki yang suka bergulat dengan temannya, anak-anak perempuan yang ingin dimanja, anak-anak yang melamun, anak-anak yang rewel dan menangis. Sebuah problematik, sangat merepotkan. Saya sering kebingungan bagaimana membuat mushola tetap tertib, menyibukkan anak yang bermain saat bergiliran ngaji, dan sebagainya. Mengajar anak sedirian itu sebuah ujian bagi saya, ujian sabar. Beragam karakter anak bermunculan, kupelajari satu persatu. Ah.. semoga kalian menjadi anak yang sholeh-sholehah, nak! Kakak sayang kalian..

Agaknya perkataan penulis Anak-anak langit itu benar adanya. Saya meyakini bahwa anak yang dilahirkan itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, mereka memiliki potensi dan keunggulan sendiri-sendiri, hanya saja tinggal kita yang mengarahkan mereka kemana potensi tersebut harus digali dan di asah. Sesungguhnya tidak ada anak-anak yang bodoh di dunia ini, mereka terlahir pintar dan seorang gurulah penentu mereka.
Seperti seorang anak inklusi, mereka memiliki keterbatasan namun mereka menyimpan bakat yang luar biasa. Hanya saja sebagai orang dewasalah harus mendukung dan membantu mereka agar berani bermimpi. Jangan mengecilkan hati mereka dengan perkataan yang tidak pantas diucap, hey dungu!, hey bodoh! Lama kali tak tanggap!, dst.

Saya tidak berlebihan menyebut tentang ini, ini kejadian yang benar-benar saya alami di sini. Selama mengajar di TPA, saya selalu di ikuti oleh salah seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental. Orangtuanya tidak bisa mengurus mereka. Si anak itu kakaknya Nayla yang sedang mengaji di musholla. Berbeda dengan kakaknya, Nayla terurus oleh orangtuanya dan memiliki semangat tinggi untuk mengaji, walau sering menghadapi problem anak yang jenuh ketika sering mengalami kesalahan dalam tata cara membacanya. Nayla sering mencuri hati saya, dan ingin bermanja pada saya.

Sebenarnya saya ingin mengajak si kakak itu mengaji bersama, namun saya juga masih agak kerepotan mengurus banyak anak. Hati ini menjerit ingin mengajaknya mengaji bersama, mungkin suatu saat nanti saya akan mengajaknya bermain dan belajar bersama. Saya sering iba dengannya, dia sering memandang adiknya dari luar jendela namun sering diusir oleh beberapa anak muridku. “dik! Jangan lakukan itu pada dia!” tegas saya untuk tidak berlaku usil padanya selama ia tak mengganggu.

Selama mengajar, hal yang membanggakan saya adalah anak SMP yang berawal dari iqro’ 3 akhirnya bisa membaca al-Qur’an walau masih agak terbata-bata dan anak kecil SD kelas 2 bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Benar-benar hasil yang membanggakan bagi saya, sebuah potensi yang berbeda namun jika diasah dengan tepat mereka akan cepat tanggap. Bagi saya kesulitan dan kejenuhan saya selama mengajar terbayar lunas saat melihat mereka menjadi bisa. Ternyata bahagia itu sederhana. Bahagia itu bukanlah kamu memiliki barang mewah, namun bahagia ialah kamu bisa memberi manfaat untuk mereka.

***
Akhir kata saya tidak ingin membuang kesempatan yang saya miliki untuk menjadikan tombak gerak perubahan bangsa ini. Harus! Sia-sialah jika saya berilmu setinggi-tingginya tapi tak bisa berbuat sesuatu yang bisa saya miliki untuk dibagikan pada mereka. Ilmu teori tidak akan ada apa-apanya di banding dengan ilmu kehidupan. Tak apalah jika suatu hari nanti saya juga bakal menjadi guru, guru bagi anak-anakku. Bagi saya, ilmu didapat bukan demi pekerjaan yang bergengsi, ataupun demi strata, tapi ilmu itu untuk mencerdaskan suatu bangsa ialah suatu tombak untuk melakukan perubahan bagi bangsanya sendiri. Percuma kamu melanglang buana keluar negeri namun mengabdi pada bangsa sendiri pun tak mau. Dan sesungguhnya kita adalah tombak perubahan bagi mereka.

Mencerdaskan sebuah bangsa itu tidak sulit namun bukan pekerjaan yang mudah, dibutuhkan keihklasan, keyakinan, kesabaran, dan do’a lah akan membuatnya bisa terlewati. Jangan lelah mengajar! Indonesia butuh kita, kaum muda. Ingat, Tuhan akan selalu bersama kita.. ^_^

*nb: sumber gambar dari Yayasan Indonesia Mengajar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s