Nasib Bangsa ada di dalam genggamanmu

pengajar-muda

My Teacher’s diary
My teacher, Kim
Anak-anak langit
Laskar pelangi, dst

Diatas adalah beberapa film dan novel yang berlatar belakang tentang seorang guru yang mengajar di negeri pelosok, negeri yang jauh dari nyamannya kota. Mereka memberi inspirasi dan menjadikan saya tergerak untuk mengabdi pada Indonesia. Indonesia adalah negeri yang dimana memiliki banyak pulau dan beraneka ragam ras, suku, bahasa, dan budaya. Sebuah keunikan yang tidak bisa dimiliki oleh negara lain, namun sayangnya di pelosok negeri Indonesia masih ada beberapa pulau yang belum terjamah tentang peradaban maju ini. Sebuah peradaban yang menentukan kecerdasan dan perekonomian suatu bangsa.

Bapak adalah seorang pendorong. Beliau sangat antusias apabila mendengar saya mengajar, terutama TPA. Beliau mendukung dan mensupport saya agar terus berjuang dan tak letih untuk mengajar anak-anak. Background keluarga besar saya memang seorang guru. Nenek saya dulu juga seorang guru dan kepala sekolah, sepupu-sepupu saya juga pernah menjadi guru di sebuah sekolah, belum lagi beberapa budhe dan pakdhe sebagian juga seorang guru. Dan Bapak juga adalah seorang guru Tapak Suci di sebuah universitas. Mengajar memang suatu yang mulia, melepas ikatan dunia agar mereka mampu menggenggam sebuah mimpi.

Kembali berkaca pada Indonesia. Indonesia yang memiliki luasnya beribu-ribu pulau namun tidak semua masyarakatnya terjamah teknologi. Ada beberapa daerah pelosok yang sangat membutuhkan bantuan kita untuk memerdekakan mereka secara lahiriah. Sebuah kata merdeka pun sebagai penopang semangat. Merdeka dari kebodohan dan kemelaratan. Agak berlebihan memang tapi itulah kenyataannya, masyarakat masih primitif dan tidak mengedepankan pendidikan. Bagi mereka yang penting bagaimana cara mendapatkan uang untuk makan.

Para orangtua hanya ingin anak-anaknya membantu mereka untuk mendapatkan uang. Namun mereka merampas hak anak dalam pendidikan yang seharusnya mereka cicipi. Sungguh sebuah ironi, anak-anak hanya terpaku pada takdir yang mereka hadapi. Padahal dengan kesungguhan dan ketekunan, kita bisa merubah takdir bukan dengan hanya berpangku tangan lalu kita hanya menerimanya dengan nelangsa atau pasrah. Bukan!

Setelah membaca buku Anak-anak Langit, agaknya saya semakin penasaran dengan sosok Anies Baswedan. Saya sering mendengar namanya di medsos ataupun TV tapi tidak pernah mengenal dengan baik sosok tersebut, karena saya adalah tipikal orang yang malas mendengar gossip. Yang kutahu beliau adalah rektor Universitas Paramadina dan baru kali ini ku ketahui bahwa ia pendiri Yayasan Indonesia Mengajar. Masya Allah, sungguh niat yang mulia. Dari ini saya sangat tertarik untuk bergabung di Indonesia Mengajar selepas lulus nanti. Mudah-mudahan Bapak meridhoiku..

Sebelum melanjutkan, saya dulu pernah mengajar di sebuah TPA pelosok. Karena saya tergabung di organisasi KAMMI dan kampus saya berada di daerah kabupaten yang dimana jauh dari hiruk pikuk kota, maka tak heran rumah warga pun hanya ala kadarnya. Musholla tempat kami mengajar itu jauh dari kata ideal. Tidak ada meja, tidak ada mukenah, yang ada hanya papan tulis, spidol, dan buku tulis. Pintu jebol, dan beberapa langit atap serta tembok juga kusam, berlantai semen dengan ditutupi karpet sholat. Sungguh suatu hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Terlepas dari itu semua, dahulu memang musholla tidak pernah terurus. Ada beberapa senior pemuda KAMMI dulu tergerak untuk menghidupkan kembali musholla, dari sini terbentuklah divisi Pengmasy (Pengemban Masyarakat) yang tidak hanya mengajar namun juga harus mensosialisasikan penduduk desa sekitar musholla agar menyadari pentingnya anak bisa mengaji. Mensosialisasikan penduduk sekitar memang susah, karena orangtua mereka tidak memiliki waktu dan mereka menyerahkan anak-anak kepada kami untuk belajar mengaji.

Sebenarnya, sosok guru tiada arti apabila tanpa adanya campur tangan dari orangtuanya dirumah. Sosok orangtua lah sangat penting bagi kehidupan anak. Sangat disayangkan apabila guru harus mendidik seharian di sekolah namun dirumah mereka tidak mengajarkan apa yang seharusnya dipahami oleh anak. Rasanya percuma, anak-anak akan menganggap itu hanya angin lalu. Saya akui dulu sering kesulitan untuk mengajak anak mengaji. Sering ditinggal main bola, ijin ambil buku tapi tidak kembali lagi, belum mandi, males, dan sebagainya. Benarlah sebuah perjuangan bagi seorang guru TPA yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, mengajar hanya secara cuma-cuma selama setahun penuh masa kepengurusan.

Perjuangan semakin terasa saat sang guru datang ditempat mengajar, namun tidak ada anak-anak. Karena itulah seorang guru harus berperan aktif dengan mendatangi rumah muridnya satu persatu, menjemput mereka dan mengajak mereka belajar mengaji bersama. Saya tahu, orangtua mereka berharap anak-anak mereka jadi anak yang sholeh-sholehah tapi orangtua jarang mendidik anak-anak mereka tentang pentingnya belajar ilmu agama. Sungguh miris.

Seperti dalam film My Teacher’s diary, kesedihan seorang guru melihat salah satu muridnya tidak masuk sekolah. Ketika berkunjung ke rumahnya, orangtuanya berkata bahwa anak itu harus bekerja membantu orangtua, dan tampaknya mereka mengesampingkan pendidikan anaknya. Sedihnya lagi, anak-anak itu ingin putus sekolah demi membantu orangtuanya. Ketika ditanya tentang mimpi mereka. Mereka tidak berani menggenggam cita-cita yang tinggi itu hanya karena keterbatasan mereka saat itu. Mereka terkurung dengan pemikiran para orangtua, “percuma sekolah, kalau cari duit gak bisa!”.

Mengajar memang butuh kesabaran, ketelatenan. Jujur saja, selama mengajar disana, saya sering di tertawakan oleh anak-anak dan mereka sering tidak memahami apa yang saya sampaikan. Sedih menyayat hati, baru ku ketahui karena saya tidak bisa menghilangkan medok jawa saya ini maka mau tidak mau saya juga harus belajar bahasa mereka. Naon, maneh, eta, bla bla. Walau tidak berhasil, namun saya sangat bangga akan antusiasme mereka untuk belajar mengaji. Itu sudah sebuah reward bagi saya.

Tepuk anak sholeh!
Aku, anak sholeh.
Rajin sholat, rajin ngaji,
orangtua dihormati,
cinta islam sampai mati.
Laa ilaaha illallah muhammadar Rosulullah.
Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah.

Tepuk semangat!
Yes! (tepuk tangan Plok3x) Yes! (tepuk tangan Plok3x) Yes! (tepuk tangan Plok3x) Allaahu Akbar!

Sebenarnya saya tidak mengajar mereka, namun merekalah yang mengajar saya tentang kehidupan. Belajar disiplin waktu, belajar menghargai waktu, belajar memahami karakter mereka, belajar menjadi anak kecil yang selalu ingin tahu. Sungguh sebuah pelajaran yang tak bisa dibeli di tempat manapun. Maka tak heran, semua dukaku terhapus apabila melihat kebahagiaan mereka, canda tawa mereka, celoteh mereka. Mereka sudah kuanggap adikku sendiri, adik yang penuh cinta dan kasih sayang. Rasa letih hilang melihat antusiasme mereka, walau sedikit murid tetapi tingkah laku mereka kadang diluar batas kontrol saya. Terkadang saya letih mengatur anak-anak untuk tertib, terlebih lagi suara saya juga kecil tentu akan membuat saya sangat kerepotan, belum lagi saya juga harus mengajar sendiri apabila teman-teman sepengurusan pada sibuk. Benar-benar perjuangan yang sangat berat dan melelahkan, karena tidak hanya mengajar di satu tempat, tapi di 2 tempat pada waktu yang berbeda.

“hey kalian mau kemana?”
“keluar kak! Mau naruh buku yang dipinjam”

Kalimat diatas adalah saat dimana saya harus berhadapan anak-anak yang nekat ingin pulang padahal jam mengaji belum habis. Hari itu saya harus ekstra sabar menghadapi anak laki-laki yang suka bergulat dengan temannya, anak-anak perempuan yang ingin dimanja, anak-anak yang melamun, anak-anak yang rewel dan menangis. Sebuah problematik, sangat merepotkan. Saya sering kebingungan bagaimana membuat mushola tetap tertib, menyibukkan anak yang bermain saat bergiliran ngaji, dan sebagainya. Mengajar anak sedirian itu sebuah ujian bagi saya, ujian sabar. Beragam karakter anak bermunculan, kupelajari satu persatu. Ah.. semoga kalian menjadi anak yang sholeh-sholehah, nak! Kakak sayang kalian..

Agaknya perkataan penulis Anak-anak langit itu benar adanya. Saya meyakini bahwa anak yang dilahirkan itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, mereka memiliki potensi dan keunggulan sendiri-sendiri, hanya saja tinggal kita yang mengarahkan mereka kemana potensi tersebut harus digali dan di asah. Sesungguhnya tidak ada anak-anak yang bodoh di dunia ini, mereka terlahir pintar dan seorang gurulah penentu mereka.
Seperti seorang anak inklusi, mereka memiliki keterbatasan namun mereka menyimpan bakat yang luar biasa. Hanya saja sebagai orang dewasalah harus mendukung dan membantu mereka agar berani bermimpi. Jangan mengecilkan hati mereka dengan perkataan yang tidak pantas diucap, hey dungu!, hey bodoh! Lama kali tak tanggap!, dst.

Saya tidak berlebihan menyebut tentang ini, ini kejadian yang benar-benar saya alami di sini. Selama mengajar di TPA, saya selalu di ikuti oleh salah seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental. Orangtuanya tidak bisa mengurus mereka. Si anak itu kakaknya Nayla yang sedang mengaji di musholla. Berbeda dengan kakaknya, Nayla terurus oleh orangtuanya dan memiliki semangat tinggi untuk mengaji, walau sering menghadapi problem anak yang jenuh ketika sering mengalami kesalahan dalam tata cara membacanya. Nayla sering mencuri hati saya, dan ingin bermanja pada saya.

Sebenarnya saya ingin mengajak si kakak itu mengaji bersama, namun saya juga masih agak kerepotan mengurus banyak anak. Hati ini menjerit ingin mengajaknya mengaji bersama, mungkin suatu saat nanti saya akan mengajaknya bermain dan belajar bersama. Saya sering iba dengannya, dia sering memandang adiknya dari luar jendela namun sering diusir oleh beberapa anak muridku. “dik! Jangan lakukan itu pada dia!” tegas saya untuk tidak berlaku usil padanya selama ia tak mengganggu.

Selama mengajar, hal yang membanggakan saya adalah anak SMP yang berawal dari iqro’ 3 akhirnya bisa membaca al-Qur’an walau masih agak terbata-bata dan anak kecil SD kelas 2 bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Benar-benar hasil yang membanggakan bagi saya, sebuah potensi yang berbeda namun jika diasah dengan tepat mereka akan cepat tanggap. Bagi saya kesulitan dan kejenuhan saya selama mengajar terbayar lunas saat melihat mereka menjadi bisa. Ternyata bahagia itu sederhana. Bahagia itu bukanlah kamu memiliki barang mewah, namun bahagia ialah kamu bisa memberi manfaat untuk mereka.

***
Akhir kata saya tidak ingin membuang kesempatan yang saya miliki untuk menjadikan tombak gerak perubahan bangsa ini. Harus! Sia-sialah jika saya berilmu setinggi-tingginya tapi tak bisa berbuat sesuatu yang bisa saya miliki untuk dibagikan pada mereka. Ilmu teori tidak akan ada apa-apanya di banding dengan ilmu kehidupan. Tak apalah jika suatu hari nanti saya juga bakal menjadi guru, guru bagi anak-anakku. Bagi saya, ilmu didapat bukan demi pekerjaan yang bergengsi, ataupun demi strata, tapi ilmu itu untuk mencerdaskan suatu bangsa ialah suatu tombak untuk melakukan perubahan bagi bangsanya sendiri. Percuma kamu melanglang buana keluar negeri namun mengabdi pada bangsa sendiri pun tak mau. Dan sesungguhnya kita adalah tombak perubahan bagi mereka.

Mencerdaskan sebuah bangsa itu tidak sulit namun bukan pekerjaan yang mudah, dibutuhkan keihklasan, keyakinan, kesabaran, dan do’a lah akan membuatnya bisa terlewati. Jangan lelah mengajar! Indonesia butuh kita, kaum muda. Ingat, Tuhan akan selalu bersama kita.. ^_^

*nb: sumber gambar dari Yayasan Indonesia Mengajar

Ketika game mengalihkan duniamu

Omongin tentang game emang gak ada habis-habisnya ya kawan! gak cuma Game online Dota, namun get rich line, Angry Bird android, dan sebagainya juga mulai digandrungi. Di mana-mana banyak sekali ditemukan warnet –warnet online yang isinya anak-anak. Kadang saya juga agak miris melihat mereka. Diluar mereka tampak happy-happy saja, namun  di sisi lain mentalnya terganggu. Lah kok bisa?

Gini fren, fenomena sekarang lebih parah di banding dulu. Liat aja, dahulu belum begitu booming tentang game online, dan hanya segelintir orang yang bermain. Dan dulu juga permainan tradisional itu digandrungi sehingga banyak manfaatnya yaitu, menambah teman. Karena permainannya juga butuh lawan. Sedangkan game online, kita hanya sebatas dunia maya, kita melawan dengan operator game tapi kita jarang berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar. Padahal dengan berinteraksi sosial, kita jadi tahu bahwa kita juga butuh orang lain. Tapi kan game kita bisa nge fresh pikiran??

Bukan fresh ga freshnya bro. tapi dampaknya kalo lo kecanduan. Kan berabe tuh, kasian orangtua uda banting tulang nyekolahin elu tapu lu malah maen game diluar sana.

Pada jaman saya SD, labtop belum secanggih sekarang dan keluarga saya baru mempunyai komputer. Ketika ada komputer baru di rumah, saya dulu senang ngutak-ngatik sampai bikin tulisan cerpen atau puisi di word. Bahkan saya suka gambar-gambar di paint. Dan saya kecil dulu juga pernah dibelikan game disket, masi inget disket kan? Itu loh Floppy Disk tapi orang-orang menyebutnya disket yang fungsinya kurang lebih sama dengan flash disk, cuman kekurangannya data dalam floppy disk tidak bisa ditambah atau dikurangin jika udah dimasukkan data sebelumnya.

Di komputer dulu game-nya tidak semenarik sekarang. kita main sebatas game bot dan PS yang gambarnya masih berbentuk balok. PS yang saya mainkan dulu dan paling saya sukai itu Mario bross dan menembak bebek (lupa namanya). Saya sering rebutan dengan adek saya itu di hari minggu :D

Belum lama, SMP saya les komputer bareng adek saya. Dari tempat les, saya jadi tahu macam-macam game dari gamehouse dan mulai jatuh cinta dengan game. Isinya beragam, tapi yang paling saya sukai yaitu luxor dan type shark deluxe. Kalau luxor sudah banyak yang tau, tapi type shark deluxe? Pasti belum tau kan? Itu game yang melatih kita mengetik keyboard dengan cepat dan dalam adegan itu penyelam harus selamat dari terkaman hiu. Nah, di badan hiu tersebut ada huruf-huruf yang harus kita tulis, semakin cepat maka hiunya akan semakin hilang. Dari game tersebut, saya bisa ketik cepat dengan 10 jari walau sekarang gak pake 10 jari sih tapi masih lumayan cepat :p

Begitu melihat saya dan adek keranjingan game di komputer. Suatu malam, bapak yang masih penasaran dengan game, langsung saya ajak main luxor. Tapi sejak mengenal luxor beliau jadi keranjingan main game. Bahkan pernah tiap malam hingga subuh juga masih main luxor. Pernah saya bangun di tengah malam, dan mengintip dibalik jendela lalu bicara dengan adek saya, “dek, bapak kok belum tidur-tidur ya?”. Saya terbangun karena lampu remang-remang komputer  masih menyala, ini diketahui karena kamar kami itu menyambung dengan ruang tamu yang ada komputernya.  “mbuh mbak, ben’e (gatau, udah biarin aja),” ujar adik saya cuek sambil tidur membelakangi saya. Karena biasanya jika kami tidur tidak pernah dalam keadaan menyala, jika ada cahaya pun pasti kami harus matikan agar bisa tidur lelap. Saya langsung menuju bapak yang lagi main game, “pak tidur pak uda jam 3!” dan bapak hanya melototi layar komputer sambil berujar,”bapak pengen mengalahkan ini, nak! Liat bapak uda level banyak!” duh gustii

Kecanduan bapak sudah berhenti sejak menghilangnya luxor dari komputer kami. karena ada masalah pada komputernya, semua game yang ada di gamehouse pada hilang. “sa, ada luxornya gak? Mintain game-nya sa!” dan saya hanya bisa menjawab,”pak luxornya gak ada, adanya zuma”. Tapi setelah di coba, bapak lebih suka main luxor di banding zuma walaupun cara mainnya juga sama. Dan tampilannya juga hampir mirip, yang membedakan hanya desainnya.  Desain zuma lebih ke dunia maya kuno atau suku Aztec sedangkan luxor lebih ke dunia mesir kuno.

Tidak ada game komputer, adek saya beralih ke PS. Sejak PS2 keluar, adek-adek saya menjadi keranjingan main game. Sepulang sekolah selalu main PS2, selalu nabung demi nambah koleksi game saja. Saya yang ingin melihat TV juga harus rebutan, dan terpaksa harus banyak mengalah. Jika tidak, adek saya akan merajuk, bahkan sampai mengadu ke ibu saya,”mama, mbak nisa lo!” dan saya balik ngadu,”halah, dia kemaren uda maen terus, aku gak bisa liat TV lo!”. Ibu saya hanya geleng-geleng meliat tingkah kami bertiga. “dek, makan dulu, gantian sama mbaknya,” tapi dasarnya masih anak-anak, mereka lebih banyak berkutat dengan PS2.

Ibu saya pernah curhat ke saya tentang perihal tingkah laku adek-adek saya. “mbak Nisa, adekmu kok maen game terus sih, kapan belajarnya?” dan saya hanya mengusulkan untuk menyembunyikan PS2. Pertama kali disembunyikan adek saya marah-marah,”mbak, ma liat PS2 ku gak?”. Saya pura-pura tidak melihat dan tidak tahu menahu. Semakin dicari, malah ketemu. Percobaan penyembunyian PS2 gagal. Dan ibu saya mencoba menyembunyikan di lemari kamar saya, akhirnya berhasil dan adek saya jadi jarang maen game sekian lamanya.

Menyembunyikan PS2 berhasil, namun kecanduan tentang game pada diri adek-adek saya tidak bisa hilang begitu saja. Adek yang terkecil mulai menabung untuk membeli Nintendo. Memiliki Nintendo, si kecil bermain terus tanpa henti. Teman yang ngajak main diluar tidak di gubris, mata adek saya menjadi berkantung tampak seperti orang sakit karena kurang istirahat. Bener-bener parah! Saya menasihatinya pun tak dihiraukan, walau prestasi akademiknya bagus dan sering dapat peringkat dikelasnya. Karena dapat award dari orangtua saya, jika dapat nilai bagus akan dibelikan apa aja yang dia mau. Tapi kecanduannya yang membuat saya tidak suka.

“dek apa sih enaknya maen game??,” tanya saya suatu saat berada disamping adek saya, “seru lho mbak”. Dan saat saya mencoba Nintendo, hal yang saya mainkan cuma tentang instruksi cooking mama! Gamenya tentang panduan memasak. Adek saya meledek saya, kenapa tidak main yang perang-perangan dsb. Saya bukan pecandu game, dan males melototi layar labtop. Menatap layar labtop demi tugas pun saya sudah lelah apalagi dengan game?? -_-

Nintendo rusak pun beralih ke PSP milik si ragil (si bungsu), dan saat lagi mondok, adek yang pertama bisa bermain sepuasnya. Hanya saja, adek saya yang pertama menjadi kurang peka dengan keluarga. Isinya hanya berkutat dengan teknologi semacam HP, PSP, labtop (game online). Game online adek-adek saya pernah, si pertama suka game bola yang dari facebook dan nge-cheat, sedangkan si ragil menyukai game offline semacam tembak-tembakan, Condition Zero. Gamenya terinstall di labtop saya, sehingga menyebabkan labtop saya berat. Saat install ulang, game tersebut hilang dan tidak bisa terinstall lagi. Karena saya bukan maniak game sehingga saya jarang mengisi labtop saya dengan game. Kalaupun diisi hanya mahjong dan itupun jarang dimainkan.

Berdasar pengalaman pribadi saya dulu,  game memang ada yang bermanfaat namun juga ada yang negative jika dilakukan secara terus menerus tanpa memperhatikan waktu dan kondisi. Bahkan game memang lebih banyak negatifnya. Noh liat aja banyak berita beredar tentang anak kecil berani mencuri demi game online! Tidak hanya itu, akhir-akhir ini ada yang memberitakan bahwa ada seorang gamer asal Taiwan meninggal akibat bermain game selama 3 hari non-stop! Waw, gila! Karena itu, saya menjadi kasihan pada anak gamer yang sudah tahap kecanduan. Di Cina ada tempat rehabilitasi buat anak yang pecandu game online. Seorang dokter yang  lulusan militer pun memberi obat untuk mengatasi candunya, dan melatih mereka untuk melakukan olahraga fisik, atau melakukan hal-hal agar mereka melupakan kecanduannya. Kira-kira di Indonesia ada gak ya? :D

Temen kuliah saya juga banyak yang gamer, tapi masih tahap normal bukan akut seperti yang ada dalam berita. Hanya saja jika saya kumpul dengan mereka, selalu dalam keadaan main game dan saya yang bukan maniak game cuman ber-ooh saja. Dan kalau kumpul bahas game seperti dota, saya cuma mangut-mangut saja, karena saya tidak mengerti seperti apa game-nya, keseruannya, dsb.  Ah, daripada main game lebih baik saya baca novel, atau main gitar untuk selang waktu daripada game yang buka labtop bikin mata saya kepanasan -_-

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan orang yang hobby main game, hanya saja saya agak risih dan gemes melihat beberapa orang mulai asyik main game namun mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Misal si A lagi dirumah dan main game, saat ibunya menyuruh bantu ibu nyapu lantai namun si A malah ogah-ogahan dan cueknya sambil bermain game. Atau ada juga si B asyik main game tapi tidak sholat dan makan? bukankah itu termasuk dzolim terhadap diri sendiri tuh?

Gamer gak gamer yang penting kalian tahu waktu, terutama waktu makan, ibadah (sholat), mandi, dan kuliah (pendidikan). Sayang lah bergadang cuma gegara main game, apalagi sampai bolos kuliah karena kecapean main game. Ih, Gak banget -_-  Yang penting buat anak gamer, se-gamer apapun kamu jangan sampai kalian lupain tentang orang yang ada disekitarmu, dan jangan sampai membuatmu jadi anti sosial, Just it! ;)
jangan biarkan game menguasaimu!

Wedding Syar’i ? why not ;)

Menjadi Wedding yang Syar’i memang tidak mudah. Karena tidak semua orang termasuk keluarga besar itu memahami konteks yang syar’i itu seperti apa. Banyaknya budaya-budaya ini tidak sesuai dengan agama Islam. Sebenarnya pernikahan boleh memakai pakaian adat tapi harus sesuai dengan budaya yang islami. Jangan karena melestarikan adat, namun mengabaikan sisi islami yang harus kita pegang.

Belakangan ini diketahui ada beberapa kawan akhwat yang sehari-harinya ia memakai jilbab lebar-lebar, tapi sayangnya saat pernikahan atau saat jadi pagar ayu itu jilbabnya di lilit-lilit ke leher mengikuti kemauan sang perias. Padahal harusnya sang perias menuruti keinginan sang pengantin, bukan meng-kotak-kotaknya. Kita yang mengerti harusnya jangan cuma diam aja, tapi arahkan dengan lembut kepada periasnya. Karena bisa jadi mungkin periasnya tidak tahu dan hanya berdasar mode di sekitar, yang mereka tahu asal tidak ada rambut, beres!

Berdasar pengalaman saya selama menjadi pagar ayu, saya sering minder dengan bentuk ukuran tubuh saya yang mungil. Bagaimana tidak, menjadi pagar ayu artinya jilbab di lilit dibentuk-bentuk, dihias-hias, namun di baju seakan-akan saya tidak pake baju. Bajunya suka transparan dan suka membentuk warna kulit, otomatis saya terlihat kurus pucat karena membentuk tubuh tersebut :’( dan menjadi pager ayu, berarti saya harus bertemu dengan banyak orang yang datang, memberi salam dsb. Apalah arti itu semua bila saya gak pake baju walau hanya pake baju seperti itu. Meskipun saya senang menjadi pagar ayu, karena senang dirias tapi ya gitulah, saya sering tidak menemukan kecocokan soal baju untuk pagar ayu tersebut.

Semenjak saya mengenal arti hijab yang sebenarnya, saya selalu memperhatikan mana yang perlu diperbaiki. Dan saya mencoba mengajak ibu saya agar tidak ikut-ikutan trend yang tidak sesuai syariat. Karena ibu saya adalah fashionista dibanding anaknya yang tomboy. Maka beliau selalu memperhatikan penampilan saya yang kurang cocok lah, kurang matchinglah, kurang begini-begitulah. Tapi akhirnya saya bisa memakai baju syar’i namun tetep fashionable sesuai keinginannya. Walau menurut sebagian kata orang saya agak kuno atau kuper hehe. Maka dari situ saya bertekad, jika saat nanti jadi pagar ayu lagi, saya harus tetep syar’i :)

Sebelum menjadi pager ayu, saya sudah mengatakan pada ibu saya, “ma tolong bilang ke orangnya, nanti jilbabnya tolong agak dilebarin paling gak menutupi dada, atau aku aja yang benerin sendiri”. Namun tidak semua perias memahami cara berfikir saya. Sehingga kadang juga saya sering agak sedikit cek-cok dengan perias jika saat saya diharuskan untuk menjadi pagar ayu. “ya jangan gitulah, ntar gak seragam,” begitulah yang sering mereka katakan. Saya berusaha nahan diri, bersabar dan mencari kata yang tepat untuk menyampaikan ke perias tersebut, “gapapa mbak, wong warna bajunya juga masih sama”. Karena sama-sama ngotot, periasnya tidak mau membetulkan jilbab saya yang akhirnya saya harus bongkar sendiri jilbabnya agar dilebarkan sesuai syari’at.

Karena saya tergolong anaknya nekat, dan ngotot sehingga banyak yang sering mengatakan saya ustadzah, duh jauh meenn L. Walaupun saya berbeda sendiri di banding dengan pagar ayu lainnya, toh saya enjoy saja. Awal yang bagus untuk melakukan perubahan dan mencoba mengubah cara berpikir orang lain dengan apa yang saya contohkan tadi. Karena walau ibu saya telah di hijabi oleh perias sehingga menutupi dada, namun saya sering kurang sreg dikarenakan bagian belakangnya tidak ada hijab dan masih berpunuk onta. Punuk onta? Seperti apa itu?

pertama kalinya saya berani berhijab syar'i seperti ini saat jd pagar ayu :D
pertama kalinya saya berani berhijab syar’i seperti ini saat jd pagar ayu :D
Kedua kalinya berhijab syar'i di pernikahan sepupu
Kedua kalinya berhijab syar’i di pernikahan sepupu

Menjadi pagar ayu kadang menyebalkan karena saat dirias itu suka di kerik alisnya, di kasi bulu mata palsu, dan tebal riasannya. Kemaren saya nekat tidak memakai bulu mata palsu, karena berat di pakai dan membuat saya tidak leluasa untuk melihat. Rasanya seperti orang ngantuk walau sebagian orang bilang saya cantik. Namun di foto mata saya tampak kurang tegas, tapi herannya kenapa si perias menge-lem mata saya, sehingga mata tampak melotot -_- kadang juga saya sering tidak pede dengan lipstick yang agak menyala, maka saya sering mengelap bibir dengan menekan saja. Dan riasan yang tebal ini, membuat wajah saya cepat mengkilap akibat minyak. Wajah saya memang berminyak, ngeselin karena bikin gatal dan berjerawat.

Karena itulah, saya sering berpikir bagaimana dengan pernikahanku nanti? Akankah saya harus seperti mereka? Akhirnya saya mencoba searching tentang hijab wedding syar’i. Alhamdulilah dapat dan cocok, namun saya edit, kemungkinan akan disesuaikan dengan adat saya. Walaupun tidak masalah kalau tidak sesuai adat, namun saya juga ingin melestarikannya dengan konsep yang islami :D Konsep islami yakni: semua pager ayu harus berjilbab syar’i (tidak transparan, menutupi dada, dan longgar), tamu cowok dan cewek dipisah (saya gatau apakah ribet ataukah mudah, karena belum pengalaman soal ini. Tapi itu lebih baik daripada adanya campur baur laki dan perempuan), musik sih boleh asal jangan dangdut, tamu tidak diperkenankan untuk merokok walau saudara sendiri, wajib ada kursi agar tamu makan tidak pada berdiri semua :D

Tidak hanya menjadi pagar ayu dan pernikahan yang harus syar’i, namun saat wisuda yang memakai kebaya juga harus tetap syar’i . Pengalaman saya waktu wisuda semasa SMA, walaupun sekolahnya basic islami tapi sayangnya kurang islami. Saya yang memakai pakaian kebaya dengan kancing bulatan di belakang. Jika foto dari tampak samping, saya seperti alien, sungguh mengerikan! Saya yang kurus kering gitu pakai kebaya ketat, kepala besar berpunuk, jalan bagai robot karena songketnya sempit, Innalillahi. jika harus mengingat itu saya agak ngeri sendiri dan beberapa foto cetak pun saya sobek/gunting. Sugguh memalukan dan saya langsung diomelin ibuk,”fotonya kok di gunting sih! Kan buat kenang-kenangan! Piye sih kamu!”. Haha karena saya tidak peduli dan cuma diem aja, yang jelas sisa foto lainnya ada di soft copy.

Karena kuliah saya kurang satu setengah tahun lagi, maka saya harus mempersiapkan semuanya dengan baik agar kejadian wisuda tidak terulang seperti jaman semasa SMA. Qadarullah, insya Allah pasti akan dimudahkan apabila kita menolong agama Allah dengan cara yang sederhana seperti ini. Semoga keinginan saya ini tercapai, menciptakan masyarakat yang madani itu tak mudah. Semua harus dimulai dari diri kita sendiri, berani berbeda walau sendirian. Insya Allah orangtua akan selalu mendukung anaknya, selama kamu telah memberi pengertian kepada mereka. Seformal acaramu, bukan berarti gak bisa tampil syar’i, kan? ;)

So, teman-teman akhwati semua, jangan malu untuk jadi berbeda. Karena berbeda itu indah ;)

nb: sumber gambar dari fp kawanimut, dan foto asli pemilik

Bandung on the street (part 2)

jangan terpaku pada kotak, keluarlah! maka kau akan melihat dunia

poster pameran museum KAA
poster pameran museum KAA

Cerita sebelumnya berada di alun-alun, di hari yang sama yakni tepat pada valentine, 14 Februari 2015 Saya menelusuri jejak bersejarah di kota Bandung. Di sebelah Gedung Merdeka, saya memasuki Museum Konferensi Aisa Afrika. Travelling ke tempat sejarah di kota perantauan emang mengasyikkan :)

Setelah dari alun-alun, saya yang sedari awal melewati museum Asia Afrika tergelitik dan penasaran dengan acara yang ada di museum itu. Ternyata mereka para volunteer dari berbagai macam kelompok ada pameran sesuai bidangnya, seperti bidang jepang yakni menerima informasi-informasi dari tentang beasiswa ke Jepang, kursus bahasa Jepang, dan kumpulan pecinta jepang. Ada juga bidang Esperanto, kelompok ini mengusung tentang bahasa internasional yang bukan dari Negara manapun, tapi bahasa persatuan internasional, udah banyak anggota yang tergabung di bidang Esperanto. Ada juga Tiongkok, disana diceritakan tentang seluk beluk Negara Cina, tentang imlek, dan serba-serbi warna merah lainnya.

Disitu juga ada stand pecinta lukis. Tapi karena panas dan standnya tidak berada di dalam, jadi saya hanya melewatinya saja. Di sana ada berbagai macam-macam buku tidak hanya bahasa Indonesia saja, tapi juga ada berbagai bahasa Negara lain, Cina dan Jepang misalnya.

Di stand ada tentang rajut, saya udah beli benang wol rayon dan jarum rajut yang ku beli ternyata lebih mirip ikat rambut kayu. Padahal harusnya beli jarum khusus rajut agar memudahkan belajarnya. Sayang ga beli bukunya, karena mahal, dan saya belajar di internet ajalah hehe. Sudah diajari disana, saya kok lupa teknik simpulnya. Gampang-gampang susah, padahal niatnya pengen bikin syal/ bandana -_-

belajar merajut bersama neng" geluis :D
belajar merajut bersama neng” geluis :D
belajar merajut gampang-gampang susah hikss T_T
belajar merajut gampang-gampang susah hikss T_T

Dulu saya pernah ngajak temen saya untuk menjelajah museum, tapi selalu gagal dikarenakan dia sibuk kuliah, jadinya saya berkelana sendiri hehe. Ternyata ada untungnya juga, disana itu ada pameran kumpulan berbagai informasi tentang negara-negara lain. Selama ada pameran, saya tidak dilarang untuk memotret suasana dalam museum itu :D dan pameran diadakan tepat hari valentine hingga tanggal 16 Februari besok, jam 7 pagi hingga jam 4 sore.

Memasuki mueum itu tidak dipungut biaya. Selama berjalan kesana, kita disambut bendera-bendera dari Konferensi Asia Afrika dan beberapa foto tokoh delegasi KAA. Yang menggelitik, disana ada sejarah pembuatan Garuda Pancasila. Wow, menyenangkan sekali jika saya jadi tahu sejarah pembuatan lambang Negara, Garuda. Ternyata pembuatannya begitu rumit, dan itu dibuat oleah beberapa orang tim. Saya jadi terhanyut dengan suasana tempo dulu ini.

bendera negara peserta delegasi KAA
bendera negara peserta delegasi KAA

ini nih foto sejarah pembuatan lambang negara Garuda Pancasila:

selebihnya, datang aja kesana yak :p

Sebagai pecinta alam dan sejarah, selama belajar sejarah itu saya selalu ingat. Disitu terpampang foto Nelson Mandela, saya selalu ingat karena beliau adalah politisi penentang Apartheid (politik perbedaan warna kulit) dan juga pernah menjabat sebagai presiden Afrika kulit hitam pertama. Sayangnya sepeninggalnya, banyak yang tidak mengenal jasa-jasanya padahal dalam buku sejarah ada tokoh beliau tersebut. Miris.

kolase tokoh  para delegasi
kolase tokoh para delegasi

Tidak hanya museum, namun juga ada perpustakaan khusus tentang kenegaraan. Kebanyakan bukunya adalah berbahasa inggris dan latin, bahasa Indonesia itu jarang. Mau ga mau saya mencoba membaca berbahasa Inggris, lumayan mengasah bacaan inggrisku hehe. Disamping rak-rak, ada meja panjang dengan karpet, lelah saya berjalan tanpa henti akhirnya bisa juga duduk lesehan sambil membaca buku sejarahnya itu.

Di ruang tengah itu barulah museum-museum. Beberapa barang kuno juga dipajang disitu, diantaranya adalah beberapa perangko dan surat unik , lempengan piringan hitam berisi rekaman pidato bung Karno, kamera merek Lucia yang dipakai untuk wartawan dan alat pencetak foto, mesin ketik kuno, dan beberapa patung lilin peserta delegasi. Cukup luas untuk seorang diri disana.

meja pertemuan delegasi
meja pertemuan delegasi
tanskrip asli hasil akhir KAA
tanskrip asli hasil akhir KAA
piagam asli dari KAA
piagam asli dari KAA
mesin ketik tua
mesin ketik tua
piringan hitam berisikan pidato bung Karno
piringan hitam berisikan pidato bung Karno
bagian dalam museum
bagian dalam museum

Selama, ku masuki tempat pameran Korea. Ga nyangka ada beberapa buku tentang pariwisata korea pun ada, Sastra korea, sejarah korea, dan apapun tentang korea. Walau saya tidak tertarik dengan korea, tapi dalam penataan di pameran ini cukup apik. Mungkin anak pecinta korea yg tidak datang di tempat itu bakal nyesel kali, ya hehe. Di rak berjejeran macam-macam buku, disana ku temukan buku bacaan Braille. Baru sadar ternyata ada beberapa orang buta lagi membaca buku Braille yang disediakan disana, dan ada alqur’an versi Braille, masya Allah..

brosur berisikan voucher wisata, peta kereta bawah tanah, dan jalanan sisi korea
brosur berisikan voucher wisata, peta kereta bawah tanah, dan jalanan sisi korea
stand braille, dan beberapa org buta pun membaca buku
stand braille, dan beberapa org buta pun membaca buku
stand korea
stand korea

Disamping stand khusus korea, sebelahnya ada stand buku perpustakaan menteri dalam negeri. Saya di suruh untuk menulis di daftar buku tamu, padahal saya hanya mahasiswa yang iseng menjelajah di museum KAA ini. Sebenarnya banyak banget bacaan yang bagus-bagus, namun karena tidak bisa di bawa pulang yah saya hanya membaca sekilasnya saja. Cukup menyenangkan bagi seorang diri merayakan valentine hanya menjelajah sisi bersejarah di Bandung :D

Sepulang, saya ingin menyeberang jalan, namun karena ramai akhirnya saya mencoba fasilitas jembatan penyeberangan. Disana ada beberapa pengemis yang tidur di pinggiran tangga dan pingiran pagar. Saya gak ngerti apakah mereka memang bener-bener pengemis atau pura-pura ngemis sepeti yang diberitakan, namun saya berusaha tidak bernegatif thinking. Saat saya menikmati jalan dari atas, saya melihat disamping anak kecil yang ortu jadi pengemis, umurnya sekitaran 1 tahun lah, tapi mirisnya dia main-main dengan lem yang katanya lem bisa membuat kecanduan. Entahlah saya tidak tahu kenapa lem bisa membuat sebagian anak kecil jalanan ini membuat kecanduan, dan apa dampaknya. Who knows?

Bandung on the street (part1)

IMG_0474

Hay pemirsah..
Hay para pecinta blog, apa kabar? :D

Sekian lama tidak menulis blog, membangun sebuah mood emang susah. saya adalah anak bertipe moody, apa pun selalu bergantung mood. Padahal sebenernya sebuah karya juga harus diasah agar semakin bagus, dan tidak serta merta kita selalu mengandalkan mood. Dan kini saya berusaha menata hati agar apapun yang dijalani bisa maksimal, bukan dari mood :D

Sudah 3 tahun saya tinggal di Bandung. Waktu yang cukup singkat menurutku, karena tidak hanya pelajaran akademik kampuslah yang kita hadapi, tapi sebuah pelajaran hidup yang harus kita asah. Teringat masa dulu, sebelum belajar disini banyak yang mencegahku untuk ke Bandung. Banyak sekali komentar miring tentang Bandung, namun tidak saya gubris. kenapa? semakin orang menjelekkan Bandung, maka semakin penasaran pulalah apa yang membuat Bandung sedemikian jelek dimata orang. Dan ternyata Bandung tidak sejelek yang orang bilang, sehingga semakin pulalah saya cinta pada kota kecil Bandung ini. Hidup di kota perantauan buatku mengerti arti hidup sebenarnya.

Kesibukan saya selama di Bandung membuat saya sering tidak sempat adventure terutama pada sisi lain Bandung ini. Padahal 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk tinggal disini, maka saya harus berbuat sesuatu agar saya bisa menyelam sisi lain Bandung untuk bisa di ceritakan. Saya bosan dengan organisasi, saya bosan dengan rutinitas kesibukan kuliah, dsb. Akhirnya saya memutuskan untuk memprioritaskan kuliah, dan hobby. Sengaja saya mengundurkan diri dari organisasi-organisasi lainnya, dan saya menunggu jabatan di BM selesai agar tidak mengganggu hobby saya ini.

Sebelum menjelajah, saya telah bernekat menjelajah bandung menjadi traveller alone. Kenapa gak sama temen? kan asik? Maaf bukannya tidak mau, tapi karena saya udah biasa berkelana sendirian. Walaupun sebenernya sepi sih, tapi kita bisa ngorol dengan banyak orang, ketemu bermacam-macam karakter orang itulah yang saya sukai. Bersama mereka akan membuat kita lebih peka dengan keadaan sekitar. Kalau sama temen kita ketemu ya itu-itu aja, dan teman belum tentu akan peduli pada kita.

Menjelajah Bandung sendirian apalagi cewek emang butuh keberanian, harus waspada, serta menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bekal dari bapak tentang beladiri cukup lumayan untuk selama berpetualang. Walau banyak yang melarang saya bepergian sendiri, toh saya tetap nekat. Saya emang cewek bonek alias cewek bondo nekat :D

Tujuan pertama saya petualang adalah ke alun-alun Bandung, kenapa harus alun-alun? Selain karena dekat dengan kantor pemerintahan, Alun-alun Bandung ini juga baru dipugar 2 bulan lalu. Jadi saya penasaran ingin menyaksikan secara langsung tentang wajah Alun-alun Bandung sekarang ini yang selama ini saya dengar dari kata orang. Sebelum kesana, saya sempat kesulitan cari tempat parkir. Ternyata parkirnya berada di basement bawah/ ruang bawah tanah. Sempet saya terbengong dimana lokasi parkir, karena arah jalanan bandung ini cuma satu arah jadi mata harus siaga dan jeli agar jalan tidak kebablasan. Kalau kebablasan maka semakin jauh jaraknya untuk kembali lagi ke alun-alun. Udah sering saya salah jalan, namun kesasar itu lebih baik karena akan semakin tahu jalanan kota Bandung yang kecil ini :D

ini dia alun-alun tampak dekat. cukup lapang untuk di duduki :D
ini dia alun-alun tampak dekat. cukup lapang untuk di duduki :D

Parkir disana untuk motor hanya 1.500/jam, sedang mobil 3000/jam. Sempat saja saya kebingungan mencari lokasi parkir motor yang bercampur baur dengan parkir mobil. Parkir lumayan luas menurutku, terhindar dari hujan dan panas. Kasihan motor saya udah sering kena panas dan hujan ditambah uda berumur hehe.

parkir basement tampak depan tapi saya parkirnya dari belakang
parkir basement tampak depan
tapi saya parkirnya dari belakang

Di dalam basement dibagi 2 sekat. Sekat di batas dengan tembok, sekat pertama untuk parkir kendaraan, dan kedua untuk para PKL berjualan. Siang itu jualannya kosong dan sepi, kemungkinan malam jualannya. Karena saya tiba di lokasi tepat jam 12 siang, cuaca cukup terik karena sebelumnya pagi hari saya harus mencuci baju sedekimian banyaknya sehingga terpaksa molor. Siang ini membuat saya tenang karena jemuran bisa kering dengan tepat waktu, mengingat cuaca Bandung sering tak menentu, kadang cerah kadang mendung hujan :D

Menaiki dari basement, baru diatasnya ada alun-alun. Ada beberapa orang berjualan, baik minuman, dan bola-bola mainan. Di sampingnya ada Masjid Raya Bandung, sisinya baru ada hamparan karpet rumput yang luas. Cukup lapang karena tidak ada PKL yang menganggu jalan, karena sudah disediakan tempatnya. Di sisi karpet ada beberapa café kecil semacam stand es krim yang digunakan untuk duduk-duduk atau menghindari panas. Diluar pinggir alun-alun ada beberapa kursi kayu, ada beberapa pohon yang rindang, cukup untuk bersantai menikmati ramainya kota. Ada beberapa bunga cantik untuk difoto hehe. Karena cuaca cukup terik jadi saya tidak kuat untuk berlama-lama di atas karpet, selama diatas karpet saya harus melepas alas kaki, otomatis kaki terasa kepanasan hehe.

Di alun-alun lumayan tertib, ada penjaga satpol PP untuk menjaga ketertiban warga kota. Banyak keceriaan disana, anak-anak sekolah bermain bola. Suasana disitu buatku kangen akan keluarga saya di rumah, dan memoriam masa kecil saat di taman kota saat bersama keluarga.

alun-alun tampak dalam
alun-alun tampak dalam
alun-alun tampak luar. ada beberapa bursi kayu berjejer dan beberapa pohon yang rindang menahan cuaca yang terik ini
alun-alun tampak luar. ada beberapa bursi kayu berjejer dan beberapa pohon yang rindang menahan cuaca yang terik ini

Selama di alun-alun, saya terkenang 2 tahun lalu saat mata kuliah gambar dasar untuk menggambar suasana di alun-alun. Dulu alun-alun itu masih belum ada hamparan karpet rumput, dan masih banyak PKL berkeliaran membuat sesak alun-alun dan hampir tidak ada celah untuk istirahat ataupun lewat. Alhamdulillah dengan kebijakan pak walikota baru ini, alun-alun bisa dipugar dan PKL di tertibkan. Saya jadi kagum dengan pak walikota yang sekarang, pak Emil. Beliau tidak hanya lulusan desain namun juga kreatif untuk menjadikan Bandung Juara. Benar-benar sebuah motivasi untuk saya agar lebih kreatif.

Memori dulu di alun-alun, saya terkenang dengan beberapa turis asal Korea yang menanyakan sebuah jalan Asia Afrika yang ternyata baru saya ketahui ada di sebelah alun-alun. Mereka menanyakan dengan menunjuk peta yang mereka bawa, karena kami bukan asli Bandung jadi kami tidak mengerti lokasi itu. Kepada guide,”maaf kami bukan asli Bandung ya..” tapi ternyata turisnya enjoy dan malah ngajak kami untuk berfoto sebagai kenang-kenangan. Hihii berasa jadi artis dadakan turis wkwk :D kini saya jadi penasaran bagaimana tampang saya waktu itu? :D

Berjalan sendiri kadang membangkitkan kenangan masa lalu, hal yang tak mudah untuk kita lupakan. Saya bertemu dengan bapak yang sedang menggendong anaknya. Beliau menceritakan tentang pembaharuan di alun-alun ini, ternyata karpet memang didesain agar untuk menciptakan Bandung yang bersih. Oleh karena itu alas kaki harus dilepas, padahal cuaca itu sangat terik tapi orang-orang tak peduli pada cuaca yang penting enjoy!

ini dia anak yang kutemui dalam gendongan bapaknya. anaknya lincah dan lucu
ini dia anak yang kutemui dalam gendongan bapaknya. anaknya lincah dan lucu

nantikan cerita selanjutnya di part 2, uda capek nih nulis ulang gegara ga save.
Happy reading! :D

MY SCHOOL IS HELL, Korban Bullying

Akhir-akhir ini semarak berita perihal pembully-an di SD TRISULA PERWARI, daerah BUKITTINGGI SUMATERA BARAT. Di video tersebut ditunjukkan anak-anak laki-laki berani memukul, menendang anak perempuan. Sepertinya itu hampir sekelas yang jadi pelakunya. Entah siapa provokatornya, yang jelas ia telah merendahkan martabat rakyat Indonesia. Merendahkan pendidikan, dan mempermalukan bangsa ibu pertiwi. Bagaimana tidak, disaat ada yang dipukuli kenapa tidak ada guru yang mengawasi? Kenapa temen-temen yang tidak terlibat pun tidak turut merelai? Salah apa ini?? Otaknya kah? Moralnya kah?? Harusnya jika pendidikan agama tertanam kuat, pasti jika ada yang berbuat seperti itu akan ada yang melerai dan melindungi temannya yang dianiaya itu. Masya Allah.. Allahu Rabbi..

Aku yakin tidak hanya sekolah itu yang terlibat kasus pembullyan, sekolah-sekolah lain pun ada kasus serupa namun tidak sesanter sekarang. Pembullyan sekarang marak dikalangan sekolah. Kenapa harus ada pembullyan? Untuk apa? Untuk keren? Untuk menunjukkan siapa jagoan? Pelampiasan? Semua itu tidak bisa dibenarkan. Manusia itu bukan binatang yang seenaknya kita pukul, ia punya hati.

Hal yang miris adalah faktor pertama yaitu sinetron sekarang. Banyak sinetron isinya tidak mendidik, seperti cerita tentang cinta-cintaan, tawuran, pembullyan. Kalian kira TV ini tidak akan membekas dihati anak-anak? SALAH! Anak-anak adalah peniru. Ia mudah meniru apa yang dilihatnya. Ia punya memori kuat, apalagi jika tidak diawasi oleh orang tuanya atau orang dewasa, maka akan sangat mudah menelannya daripada mencerna untuk apa kekerasan itu terjadi. Masih inget kan kasus SMACK DOWN yang memakan korban anak-anak? Gak mau terulang lagi seperti itu kan? Nah, faktor orang dewasa lah yang harusnya jadi pendidik dan pelindung untuk anak-anak.

Faktor kedua juga bisa jadi karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman, dan daerah sekitarnya. Orang tua juga harusnya mampu mendidik secara konsisten agar menciptakan peradaban yang mulia. Jangan sampai orang tua dua-duanya sibuk memberikan materi tapi akhlaknya NOL. Begitu juga dengan teman, ia terbiasa berkumpul dan belum bisa menelaah mana teman yang baik dan mana teman yang buruk dikarenakan mereka masih bocah. Pendek kata, semua ada akar permasalahannya. dan perlu diusut tuntas agar tidak ada korban bullying di tempat sekolah-sekolah.

Balik ke fenomena pembullyan, sebelum kalian saling menyalahkan pihak-pihak tertentu ada baiknya kalian merenungi diri. Sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk anak-anak? Sudahkah kita mendidik dengan sebaik-baiknya? Sebelum kasus ini merajalela, ada baiknya kita kontrol sekolahnya itu seperti apa, bagaimana sistemnya? Bagaimana kualitas gurunya? Bagaimana kondisi lingkungan sekitarnya? Itu semua harus kita ketahui sebelum memasukkan anak ke jenjang dasar. Jangan hanya melihat sekolah itu dari basis internasional, mahal, fasilitas banyak tapi tidak ada pendidikan dasar agama, tidak ada fondasi kuat dasar-dasar moral.

Aku berkata seperti ini karena aku pernah mengalami hal serupa semasa di Sekolah Dasar. Bayangin aja bersekolah di sekolah islam tapi moralnya seakan telah hilang ditelan bumi. Guru-gurunya mesum, wali kelasku sendiri pula.Tidak ada satupun guru yang mengetahui. Aku tidak ingat, tapi aku selalu ingat wajah-wajah mereka yang telah me-bully aku setiap harinya. TIAP HARI! Semua terjadi saat jam kosong atau istirahat. Sangat berbahaya untuk anak-anak. Anak model aku adalah anak yang punya kekurangan dalam hal pendengaran. Harusnya mereka menghargai aku, dan mengajak aku main. Tapi mereka mengejek segala kekurangan aku, dan dengan pelecehan-pelecehan oleh teman-teman lelaki kelasku. Sekelaspun mengeroyoki aku dan TIDAK ADA SATUPUN yang membantu aku. Bayangin gimana rasanya jadi aku? Sakit? Sedih? Kecewa? PASTI itu.

Makanya dari situ anak yang menjadi korban seperti aku akan selalu minder, penakut, pemalu, dan merasa tidak pantas untuk hidup. Sama sekali tidak ada harganya. Setiap kali jam kosong aku selalu nangis di kamar mandi, sakit perih. Aku lebih suka keluar kelas daripada di dalam kelas. Mencari teman yang bukan sekelas sama aku. Kalo mereka tau aku adalah anak pembullyan, pasti mereka akan ikut-ikutan mem-bully aku. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa sekejam itu. Mankanya selama di sekolah aku tidak pernah punya sahabat. Bagiku sahabat itu BULLSHIT! MU-NA-FIK!

Harusnya sekolah bisa menjadi rumahnya anak-anak dan guru jadi orangtua kedua selama di sekolah. Ternyata sekarang sekolah hanya mengejar uang. Masi ingat sekolahku SD dulu itu termasuk sekolah islam yang elit, terkenal, muridnya banyak sampe 300an lah. Sekarang membangun gedung tingkat, dengan nama gedung millennium. Saking banyaknya murid hingga guru lupa akan tugasnya. Banyak nasehat guru tapi tidak pernah mengena satupun ditelinga murid. Kenapa? harusnya guru itu pendidik, membangun peradaban manusia tapi yang didapat adalah guru yang hanya memberi soal, tugas, menerangkan materi, kadang ditinggal pergi gurunya rapat, dan sebagainya. Ia lupa bahwa muridnya ga cuma 1 tapi ada berapa ratus murid yang harus ia perhatikan.

Sebenarnya aku tidak menyalahkan sepenuhnya pada guru, tapi aku menyayangkan dengan yayasan sekolahku. Ia begitu buta dengan harta. Fasilitas ditambah, ruang kelas ditambah karena membludaknya murid baru tapi kualitas anak didiknya tidak diperhatikan. Untuk apa banyak murid? Aku kasihan sama guru-guru yang kewalahan mengatasi muridnya. apalagi muridnya yang tergolong bandel dan susah diatur. Bahkan mereka tidak tau psikologis murid-muridnya yang menurutnya ‘special’.

Saking elitnya, rata-rata anak disana tergolong menengah ke atas. Dulu emang sekolah tidak memperbolehkan membawa HP tapi dasarnya anak-anak bandel pada bawa HP. untuk apa? pamerkah? Aku dulu punya HP tapi ga berani pamer, kalaupun pamer pasti punyaku di banting mereka haha. miris sekali kan? Aku tidak tahu bagaimana nasib SD ku kini?

Selama di SD hanya penderitaan batinlah yang kudapat. tidak pernah ada peristiwa bahagia atau momen-momen seperti anak-anak lainnya. Berusaha bangkit dari keterpurukan memang sulit karena trauma masa lalu. Bahkan orangtua ku saja tidak tahu perlakuan apa yang pernah ku dapat saat disekolah. Pernah aku terbesit ingin berhenti sekolah karena perlakuan yang tidak adil itu, bahkan ingin kabur dari rumah. Segala yang ku adukan ke orang tua tidak pernah tersampaikan dengan jelas dan langsung menangis bombay haha.

Yah you know lah bully itu menyebabkan ketraumaan dan menyisakan luka yang teramat dalam. sampe sekarang masi trauma dengan kota kampung halaman. Apalagi menjadikan anaknya menjadi pendiam dan terkukung selamanya. Alhamdulillah aku bisa melewati fase suramku ini dan mampu keluar dari ketraumaan itu dengan perantauanku. Tapi jika harus ketemu teman lama yang pernah menyakiti aku, aku belum bisa memaafkannya. Dengan perantauan ku ini, aku tidak akan bertemu mereka lagi dan biarkan aku menghilang selamanya. Semoga teman-teman yang pernah mem-bully aku ini segera dapat karma.

Video ini membuka lembaran masa laluku. Aku tidak ingin anak-anakku mengalami hal serupa seperti ibunya. maka aku dari sekarang berusaha belajar agar aku bisa mendidik dengan sebaik-baiknya, kalau bisa bila tidak ada sekolah yang tidak memenuhi kriteriaku, yaitu: murid sedikit, sekelas max 25 anak, guru kompeten dan amanah, laki-perempuan dipisah, agama/ ilmu ketauhidan selalu ditanamkannya, maka dengan hal tersebut anak akan merasa diperhatikan, dihargai guru, dihargai teman karena temannya sedikit dan akan merangkul teman-teman yang ada. Jika tidak ada yang memenuhi kriteria, maka ku terpaksa anakku harus di homescholing dengan memanggil guru yang bener-bener berkualitas. Homescholing itu tidak buruk, sang ibu mampu mengontrol anaknya, masalah teman bisa diajak bermain dengan teman lainnya. Yang penting bagaimana pendidikan itu nyampe ke nurani anak-anak dan mampu menerapkan kehidupan sehari-hari kelak.

Buat adek-adek yang jadi korban bullying segera lapor ke orang tua dan guru, atau lapor ke orang dewasa yang dekat dengan kalian. Harapanku dari kisah ini semoga tidak terjadi lagi kasus pem-bully-an dan pelecehan di negeri ini apalagi di tempat pendidikan. Dengan melapor maka akan bisa di usut tuntas dan dapat ditindak tegas bagi yang melakukan kekerasan. Semangat semuanya bagi yang berusaha move on, kita tak sendiri kok ^_^ LA TAHZAN INNALLAHA MA ANA

SNMPTN tulis 2012

Sekian lama, akhirnya bisa nge post juga pemirsaa :p

Pada saat itu meyakinkan orang tua aja yang ribetnya minta ampun. Sampai-sampai masa setelah unas kan libur lama alias panjang sampai berbulan-bulan. Nah tengah bulannya itu aslinya aku pengen ke pare bersama temanku, tapi nyataya orang tuaku ingin aku mengkuti SNMPTN. Jadinya mau gak mau aku terpaksa gak jadi ikut dia, hiks! :( jadi selama menunggu SNMPTN aku ikut kerja di tempatnya orang tuaku, entahlah yang pasti aku harus mau jadi macem-macem, nge gantiin karyawan absen lah, membantu bagian ini itulah, yang penting asik :D jadi semua kegiatan biar aku kagak nganggur, ya harus diisi yang positif biar gak eman.

Sebelum ujian SNMPTN tiba, aku bayar pendaftaran dulu seperti yang pernah dilakukan pada saat aku daftar telkom dulu.
Awalnya aku bayar 200 ribu yang ips non tes keterampilan. Aku gak tau kalo mau ikut jurusan seni harus bayar lagi untuk tes keterampilan dengan biaya 150 ribu. Padahal aku uda nulis isiannya untuk bikin kartu ujian, dan cetak. Aku pilih di UNPAD –hubungan internasional dan UNM-manajemen. Tapi kata ibuk ku, “kalo kamu gak suka ngapain milih, ganti jurusan yang kamu suka aja!”. Walahh tmbah mbulett, akhirnya aku ke kantor SNMPTN di unair, buat tanya-tanya apakah bisa di ganti dan sebagainya.

Saat menuju unair, tiba-tiba ada orang nyeletuk bilang, “mbak gak boleh pake sandal kalo di dalam. Kalo mau saya tawarkan jasa sepatu, bagimana mbak? “ saat itu ibuku ngomel-ngomel gara-gara saya pake sandal, padahal menurutku itu bukan sandal tp sandal hak. hahahaa :D mau gak mau yah saya sewa deh, padahal saya gak suka sepatu karet itu. Sakit mak!

Setelah di unair, tanya ini itu, akhirnya diputuskanlah beli formulir baru dengan tambahan 150 ribu untuk tes keterampilan, jadi total 350 ribu gitu. Agak mahal sih memang, gak seperti yang lain. Setelah daftar lagi yang prosesnya mirip telkom, saya pilih di UNS solo dan UM malang dengan jurusan yang sama dengan telkom, DKV.

Menjelang hari H SNMPTN, saya dapet tempat di SD Lab. UNESA ketintang, ya ampuun tempatnyaa jorok, deket WC lg! Tapi yah lumayan bisa dan yang susah adalah menghitung! Ya, Anda tau kan kalo saya tidak pandai berhitung, berhitung adalah bidang lemah saya hahaha. Selama 2 hari di SD, saya lewati dan hari ke 3 , saya tes ketrampilan di UNESA lidah kulon, jauuh banget dari ketintang. Saya di anter dengan ibuk, ketemu temen SMP dan SMA, beda jurusan tapi sama-sama tes ketrampilan, yaitu gambar objek! Saya bisa gambar tapi saya lemah bagian gambar orang, terlalu mendetail, susah maan :p

Pada pengumuman SNMPTN tiba, pengumuman tesnya itu di majukan lebih awal. Jadi saya males buka karena males internetan, dan akhirnya dibukakan sama sodara saya, mas Dwi. Dia bilang aku gak keterima, yaudah aku sih gak masalah. Jadi gak tambah galau hehehe. Masalahnya tinggal orang tuaku terutama bapak, ya bapak memang agak berat lepasin aku. Jadi saya mutusin biarkan orang tuaku yang liat pengumumannya di koran esoknya. Ternyata esoknya saya gak keterima juga, bapakku akhirnya memutuskan saya kuliah di bandung. Seneng dahh aku, uda ada kepastian :) dan mereka berpesan pada saya harus mandiri, kalo ada masalah jangan diam saja. Okelah aku gak masalah yang terpenting mereka ikhlas saya tuh uda seneng :) thanks ya pak .

diam-diam urakan!

Jumpa dengan saya kembali,

teman-teman, Aku punya tatto bagus, meskipun tatto tapi ini bisa hilang lhoo. Bahannya pun cuma dari semiran rambut, bisa tahan lama bahkan 2 minggu lebih daripada henna! Mau coba?

caranya: Campurkan bubuk tinta tadi itu dengan air sedikit aja, jangan banyak-banyak, taruh tinta tsb di bagian tubuh mana yang kita suka dengan lidi atau tusuk gigi. Sebelum di tatto, desain dulu gambarnya, baru di tebelin dengan tinta itu tadi. Tunggu hingga kering, gak lebih dari 2 jam, setelah itu preteli tinta yang kering itu tadi. (Hampir sama dengan menggunakan pacar hhee)

ini nichh tatto-ku, bagus gak??

ini tatto pertamaku

yang kedua bagian lengan

keren gak?? hhee

diatas itu tatto-ku semua, adikku si nomor 2 ikut-ikutan aku, jadinya aku ketemu temenku buat mintain tintanya. so, aq tetep yang desain gambarnya walau hanya berupa tulisan. walau hasilnya memuaskan, ternyata setelah tinta tatto itu mulai memudar. Ada bercak-bercak yang memerah mengikuti gatis tatto itu, kemungkinan adikku alergi terhadap bahan-bahan seperti itu. padahal adikku mulai ketagihan, tapi aku tak mengijinkannya, kenapa? ya karena aku takut akan berdampak fatal pada kulitnya yang alergi itu..

Puas dengan kegiatan itu, aku jadi ingin mencoba hal baru lagi. Ingin mencoba yang permanen, tapi jangan dulu, karena aku masih sekolah hehehee, gak pantes :p
nakal yak aku? hahahaa yang penting masih dalam batas wajar, dan jangan niru-niru aku yang gak baek lo yaa,, ambil sisi positifnya aja, okey ;)

Mungkin bagi orang lain, caraku uda kelewatan, tapi bagiku masih wajar. Yang penting meskipun senakal-nakalnya aku, aku gak akan pernah menyentuh narkoba dan miras. Seyogyanya aku, aku gak akan pernah meninggalkan sholat, dan tidak akan pernah melupakan kepada sang Pencipta dengan ibadah. Hanya saja aku butuh dukungan orang-orang agar aku mampu bangkit dari segala keterpurukan dan masa laluku.

Cuma itu tergantung masing-masing individu mau berubah atau tidak. Kita memang punya masa lalu masing-masing, yang terpenting melihat kedepannya orang itu. Jangan melihat masa lalu seseorang saat ia mau berubah, bantulah ia agar mampu bangkit dan berilah ia tempat yang baik. Atau bagi diri sendiri, larilah ke tempat lain sejauh-jauhnya dari tempatmu kini, agar kau tak lagi jatuh ke lubang yang sama. Karena Allah tidak menilai hasil, tapi prosesnya saat mencapai RidhoNYA.

My Religion

tentang agama???
menurut aku adalah suatu kepercayaan yang kita anut. Agama di Indonesia ada 5 yaitu: Islam, Kristen protestan, katholik, Budha, dan hindu. Agamaku adalah islam yaitu mengajarkan kalam. Islam bukan agama paksaan, melainkan orang yang dapat hidayah oleh Allah. Islam mengajarkan kita untuk mengerjakan amar ma’ruf nahi mungkar. Yaitu seperti sholat, zakat, puasa, shodaqoh, dsb. Karena apa yang kita kerjakan tanpa keraguan maka kita akan mendapatkan pahala. Karena bagaimanapun juga semuanya ada guanya. tidak ada yang salah, apa yang dikatakan atau firman Allah itu pasti akan terjadi.

Berikut ini adalah artikel yang saya pinjam, seluruh kata atau kalimat untuk tugas dari blogger lain.

Termasuk kesalahan besar apabila seseorang mengatakan sesuatu itu halal, padahal dia tidak tahu hukum Allah tentang itu. Atau mengatakan sesungguhnya ini haram, padahal dia belum tahu hukum Allah tentang perkara itu. Atau mengatakan ini wajib, itu sunah, ini dari Islam, padahal dia masih samar dalam masalah tersebut. Hingga mungkin akan sebaliknya, apa yang dia katakan wajib, sebenarnya di sisi Allah tidak wajib. Dan yang dikatakan dari Islam, ternyata bid’ah, dan yang dikatakan bid’ah , justru itulah Islam. Jadinya kacau. Maka berbahaya sekali seseorang yang berfatwa tanpa ilmu, di mana dia akan sesat dan menyesatkan orang banyak, dan secara tidak langsung atau langsung dia telah menjadikan bagi Allah sekutu (dalam membuat syariat Islam). Firman Allah: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diijinkan Allah?” (Asy Syura: 21).

Apakah mereka tidak tahu, di saat memberi fatwa yang menyesatkan orang dengan menghalalkan yang diharamkan Allah atau mengharamkan yang dihalalkan Allah, bahwa dosanya akan kembali kepada mereka dari orang-orang yang tersesat dengan fatwanya yang tanpa ilmu tersebut ? Karena besarnya bahaya fatwa tanpa ilmu, maka Allah mensejajarkan perbuatan berkata/berfatwa atas nama Allah tanpa ilmu- itu, dengan syirik. Firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Al A’raaf: 33).

Sesungguhnya ada sebagian kaum muslimin yang karena keberaniannya, ketidakshalihan dan tidak adanya malu kepada Allah dan tidak takut kepadaNya, mengatakan sesuatu yang jelas haram, dia katakan makruh. Atau hal yang jelas wajib dia katakan sunnah. Entah karena kebodohannya atau karena kesengajaannya. Atau membuat keragu- raguan kepada kaum muslimin mengenai syariat Allah.

Sikap orang yang berakal dan beriman, takut kepada Allah dan mengagungkanNya dalam mengatakan sesuatu yang belum diketahui adalah dengan ucapan “Saya tidak tahu, akan saya tanyakan kepada yang lain”. Sikap itu merupakan akhlaq orang yang sempurna akalnya, dan dengan demikian ia sendiri telah bisa mengukur dan mengakui seberapa kemampuannya.

Coba kita perhatikan sikap Rasulullah, seorang hamba Allah yang paling tahu tentang agama Allah- di saat beliau ditanya oleh para shahabat tentang roh dan tentang hari Kiamat. Apa jawaban beliau ? Beliau menunggu jawaban dari Allah yang berupa wahyu, dan tidak langsung dijawab dengan tanpa ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Ta’ala: “Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: “Bilakah terjadinya ?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku, tidak seorangpun yang bisa menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia”. (Al A’raaf: 187).

Untuk lebih jelasnya perhatikan perkataan Ibnu Mas’ud berikut ini: “Wahai para manusia, barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, maka katakanlah (jelaskan). Dan barangsiapa yang tidak mengetahui tentang ilmu itu, maka supaya mengatakan, “Allah yang lebih tahu (Allahu a’lam)”. Sesungguhnya sebagian dari kehati-hatian orang yang berilmu adalah mengatakan sesuatu yang belum diketahui dengan perkataan : “Allah yang lebih tahu”.

CONTOH FATWA TANPA ILMU

Berikut ini sebagian dari contoh fatwa yang tanpa ilmu dan menyesatkan. Bahwasanya orang yang sakit dan pakaiannya kotor kena najis dan tidak mungkin untuk mensucikannya karena suatu hal, ada yang menfatwakan bahwa si sakit tersebut tidak perlu shalat sehingga suci pakaiannya.

Ini adalah fatwa bohong, salah dan bathil. Yang benar adalah, orang yang sakit tersebut tetap berkewajiban shalat, sekalipun di badannya ada najis yang tidak bisa dihilangkan, karena Allah telah berfirman: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun: 16).Berikut ini sebagian dari contoh fatwa yang tanpa ilmu dan menyesatkan. Bahwasanya orang yang sakit dan pakaiannya kotor kena najis dan tidak mungkin untuk mensucikannya karena suatu hal, ada yang menfatwakan bahwa si sakit tersebut tidak perlu shalat sehingga suci pakaiannya. Ini adalah fatwa bohong, salah dan bathil. Yang benar adalah, orang yang sakit tersebut tetap berkewajiban shalat, sekalipun di badannya ada najis yang tidak bisa dihilangkan, karena Allah telah berfirman: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun: 16).

Jadi orang yang sakit bisa shalat sesuai keadaan dan kesanggupan dia mengerjakannya. Jika sanggup, dia shalat dengan berdiri. Jika tidak bisa shalat dengan berdiri, maka shalat dengan duduk. Jika tidak mampu dengan duduk, bisa shalat dengan berbaring dan berisyarat dengan kepalanya. Apabila tidak sanggup berisyarat dengan anggota badannya, sebagian orang yang berilmu mengatakan, bisa shalat dengan isyarat matanya. Apabila dengan matanya tidak bisa, berisyarat dengan hatinya, dan niat dalam hatinya itu mengerjakan perbuatan shalat (shalat dalam hatinya di waktu sudah tiba waktu shalat).

Dengan sebab fatwa yang bohong dan salah seperti contoh di atas (si sakit tidak perlu shalat sehingga suci pakaiannya), banyak kaum muslimin yang mati dengan meninggalkan shalat karena fatwa ini. Dan masih banyak lagi fatwa yang ngawur dan bohong dengan tujuan meraih popularitas di masyarakat atau untuk meraih kedudukan,  jabatan,  atau lainnya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengingatkan kita dengan sabdanya: “Barangsiapa mempelajari ilmu untuk bermegah-megahan di antara ulama’ atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk mengambil simpati orang banyak kepadanya, maka ia akan dimasukkan ke dalam Neraka”.(HR. Turmudzi).

Umat ini butuh kepada ulama di setiap waktu dan tempat. Karena umat tanpa ilmu dan ulama’ akan hidup dalam angan-angan, kerusakan dan kegelapan. Jadi dengan adanya fatwa-fatwa dari sebagian orang yang dianggap ulama’, dengan fatwa-fatwanya yang tanpa ilmu, maka akan sirnalah harapan umat untuk mendapatkan penuntun adil di dunia ini, untuk mengantarkan mereka agar selamat di hari Kiamat nanti.

Seseorang dianggap ulama’ karena kematangan ilmunya dalam agama. Dan seorang ulama’ yang benar-benar ulama’, tidak akan berfatwa tanpa ilmu, atau dengan hawa nafsunya. Karena mereka penerus dan pewaris da’wah para Nabi.

Semoga umat ini diselamatkan oleh Allah dari fatwa-fatwa yang bohong, menyimpang dan bathil. Amin.

(Rujukan: Kitabul Ilmi, Kitab Tauhid, Minhajul Qosidin)

Sumber: www.mediamuslim.info

Doa

Aku tahu bahwa aku masih hidup
Aku tahu tak selamanya kita hidup
Aku tahu apa yang seharusnya kukerjakan

Namun semua begitu susah
Terlupa akan bait-baitNya
Yang selalu menggema
Diseluruh Jiwa Raga

Aku tahu hanya dirikunyalah yang bisa
memulai dan mengakhiri
Lembar-demi lembar
yang harus kita lewati

sahabat

jagalah sahabat kalian sebaik
kalian menjaga hubungan kalian
dengan orang yang sangat dekat,
karena bagaimanapun
yang namanya sahabat
adalah bagian dari kehidupan kita
orang yang di kirim Tuhan untuk
selalu menghibur dan menjaga kita.
Jangan pernah kau sakiti dan lukai
hati diantara sahabat kalian
karena akan sulit tuk dapat
menghapus semuanya itu.

Waktu…

Ingatkah Anda?

Ketika semua teman menjelma menjadi sahabat
Ketika semua sahabat menjelma menjadi kerabat

Ketika yang jauh terasa sangat dekat
Ketika yang dekat terasa sangat erat

Ketika semua kesalahan begitu mudah termaafkan
Ketika semua kekurangan begitu mudah terlupakan

Ketika prestasi sekecil apapun terasa benar-benar membanggakan
Ketika apresiasi sekecil apapun terasa benar-benar menyejukkan

Ketika semangat memberi telah menyatu dalam jiwa
Ketika semangat berbagi telah menyatu dalam raga

Ketika kesedihan hanya sejenak menjadi sapaan
Ketika kedukaan hanya sejenak menjadi teguran

Ketika amarah menjadi mudah untuk diredakan
Ketika dendam menjadi mudah untuk disirnakan

Semuanya terasa sempurna

Inginkah Anda mengulah masa-masa indah itu semua ?

Sekarang lihatlah kedalam diri Anda

Raga yang masih bugar
Jiwa yang masih sadar
Waktu yang masih terhampar

lalu, apalagi yang Anda tunggu?

Sekarang adalah kesempatan yang sangat tepat
Memulai segala hal yang dapat diperbuat
Untuk mengembalikan kenangan indah yang begitu nikmat

Karena kita tidak pernah tahu
Kapan sang maut akan memburu

Menunggu adalah sia-sia
Menunda adalah celaka

Menyeret kita ke dalam jurang penyesalan
Karena telah menghamburkan kesempatan

sahabat itu…..

Persahabatn sejati layaknya kesehatan,
nilainya baru kita sadari setelah kehilangannya.
Seorang sahabat adalah
yang dapat mendengarkan lagu dalam hatimu
dan akan menyanyikannya kembali.
Tatkala kau lupa akan bait-baitnya
Bertemanlah dengan orang
yang suka akan kebenaran.
Dialah,
HIASAN DIKALA KITA SENANG
dan
PERISAI DIWAKTU SUSAH

Seorang teman sejati akan membuat Anda hangat
dengan kehadirannya
mempercayai akan rahasianya
dan mengingat Anda akan do’a-do’anya.
Dan
memberikan kekuatan
pada orang yang lemah,
membuat orang tidak percaya menjadi percaya
dan memberikan keberanian
pada orang yang ketakutan.
Jika kita berbuat baik,
kebaikan pula yang akan kita
terima kelak.

Namun,
Kita takkan pernah memiliki sahabat,
Jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu
BAIK KALAU KITA BISA MELIHAT KEBAIKANNYA,
DAN MENYENANGKAN
KALAU KITA BISA MELIHAT KEUNIKANNYA
.
Tapi semua manusia akan
BURUK DAN MEMBOSANKAN
KALAU KITA TIDAK BISA MELIHAT KEDUANYA
.

Wallahu ‘Alam

Bangku mu, Bangku ku juga

Ketika semua berlalu, biarkanlah berlalu hingga terbitnya sinar mentari. Angin masa depan pun menutup bunga kisah di masa lalu yang pernah mengukir sejarah dimana temen yang paling kamu benci itu bisa jadi temen yang paling kamu sayang.

Dikarenakan semasa SD saya jarang langgeng dengan teman sebangku. Semua selalu berakhir dengan pertengkaran yang memaksa kita berpisah. Seperti yang diceritakan sebelumnya, karena pertengkaran tak kunjung reda hingga wali kelas saya kebingungan dan menggantikan saya untuk sebangku dengan gadis tambun berkacamata yang lagi duduk sendirian.
“ih sejak kapan aku sama kamu hah??” gertaknya dia
“bodo amat, siapa juga yang suruh kamu pindah!” geram saya

Awal mula sebangku, kami berdua sama-sama tidak mau. Karena kelas telah penuh terpaksa kami sebangku. Awal tidak mau saling sapa, dan saling cuek hingga suatu hari pelajaran mendikte. Karena pendengaran saya kurang, terpaksa saya harus mencontek soal pelajaran di samping saya, “ih apaan liat-liat! Mankanya dengerin dong!!”. Kalimat terakhir ini buat saya sangat sakit. “kamu itu gatau bersyukur, uda gitu sombong pula!,” gertak saya.

Bersama dia, Kadang baik kadang berantem, hingga saya masuk SMP. Saya tidak menyangka bakal di satu sekolah lagi, sekelas pula. Agak menjengkelkan, walau pertengkaran semasa SD hanya berlangsung setahun, saat kelas 5. Namun kepribadiannya membuat saya tidak melupakannya, antara gemes dan jengkelin.

Di SMP ini memang tidak ada bangku-bangku sebagaimana sekolah umumnya. Meja dan bangku lebih membaur menyatu, kadang dibuat sesuka hati mirip bangku anak TK hehe. Karena tidak ada istilah teman sebangku, sehingga kami bisa duduk bebas dimanapun saya suka. Beda dengan SD harus pake peraturan bergilir. Sistem SMP yang unik, saya agak menjauh dari dia dan mencuekin dia sendirian di pojok.

Suatu hari saya kedapatan duduk disebelah dia, karena kasihan melihat dia sendirian seakan tidak ada teman ngobrol lalu saya mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana,”kamu kok diem zah! Nulis apa ko?”. Azizah itulah namanya. Dia berkacamata, tambun, dan lumayan agak cantik kata saya karena mancung khas arab hehe. “eii jangan liat-liat la, apasih kamu!,” marah dia sambil menutup bukunya.

Walau pertengkaran saya dengan dia selalu mewarnai tiap kali saya berpapasan dengannya. Namun saya selalu menyayangi dia sebagaimanapun adanya. Saya kadang sedih melihat dia menyendiri dan selalu berkaca di depan cermin, membetulkan jilbabnya padahal menurut saya sudah rapi. Berjam-jam lamanya di jam istirahat, dan terpaksa anak-anak sekelas menutup cerminnya agar dia tak bercermin.

“sini zah, main!,” ajak saya main. Melihat saya mengajaknya bermain membuatnya senang. Saya senang liat bola-bola mata beningnya yang berbinar. Tidak hanya bermain, kami juga saling bercerita.

“eh bapakmu kerja dimana?”
“abahku sudah meninggal sejak aku masih kecil, aku dirumah budheku. Budheku uda kuanggap sebagai mamaku”
“lah mama kandungmu kemana?”
“ya di Bali sama adekku”

Begitulah kami bercerita, hingga saya menelisik tentang keluarganya. Kepribadian dia yang lugu, gaya tulisannya yang khas, dan tiap kali menulis selalu memonyongkan bibirnya. Mirip seperti anak kecil yang lagi belajar nulis, begitulah ekspresinya.

Orang yang introvert seperti saya atau dia, selalu membuat orang lain penasaran. Seperti saat kerja kelompok yang kedapatan satu kelompok dengannya. “eh bagaimana kita ngerjain tugas dirumahmu zah?,” usul saya. Semua anak-anak setuju dan berada dirumahnya yang daerah perumahan, banyak sekali boneka Barbie yang tidak saya suka. Saya sudah tidak bermain boneka lagi sejak SD, jika ada boneka apalagi Barbie itu bagi saya nggilani. Kekanak-kanakan :D

Dia sangat menyukai kartun semacam produksi walt Disney, seperti frozen, Barbie, rapunzel, dan sebagainya. Dia adalah anak plagiat saya. Semua tingkah laku saya diikuti agar diterima oleh sebgaian orang. Kadang saya juga merasa risih jika ada yang mengikuti tingkah laku saya. Ah, Zah! Berpendirian dong! Gerutu saya dalam hati.

Saya yang masih ababil dan sangat menyukai ke-punk-an, memakai gelang ban hitam tipis yang agak banyak, tapi saya hanya memakai 3 gelang saja. Besoknya saya tidak menyangka dia mengikuti saya, memakai gelang ban hitam dengan sangat banyak! Wow..

Sebelum gelang, saya pernah beli binder ber-tiga dengan Icha sepulang sekolah. Bindernya unik, disisinya ada garis melengkung. Kami kembaran dengan binder tersebut walau dia membeli yang agak girly. Girly kok nge-punk sih!

Dia lebih mengikuti gaya saya secara materi, tapi secara fisik dia agak ngalem. Menyeberang sungai bersawah atau rawa aja masih cupu. Kegiatan anak tomboy seperti saya itu mudah dilakukan, tapi bagi dia agak berat dan harus di bantu oleh teman-teman lain.”aku gak bisa.. aku gak bisa..,”jerit dia sambil menggeleng kuat. Hadeeh, susah punya temen kayak gitu.

Yang paling menghebohkan di kelas, dia menulis sesatu di sobekan kertas dan bocor oleh anak lain. Hal itu diketahui karena gaya penulisannya yang khas. Dia tidak mudah meniru cara menulis orang, walau dia suka meniru gaya orang, missal mencoba menulis menggunakan tangan kiri. Membocornya sobekan kertas itu sangat saya sesalkan sekaligus sedih. Andai itu bocor ditangan saya, saya tak mungkin membocorkan aibmu di depan orang-orang. Saya tahu kamu pasti malu menanggung itu semua.

Sepeninggal saya meninggalkan bangku SMP, akhir SMA saya mulai ketemu facebooknya dia. Mulai bercakap dan bercerita di chat.

“hey Azizah, apo kabar euy?”
“baik Nis, kamu gimana? Uda ada pacar belum?”, hadeeh kenapa tiba-tiba dia ngomongin saya tentang cowok? Gumam saya dalam hati
“gak lah, aku gak ada pacar kalee”
“apaan, kamu kan langsing, cakep. Masa gak laku-laku sihh. Kadang aku iri sama kamu, aku kan gak bisa kurus”
“apa’an sih lu! Mau dicari’n apa??”
Begitulah percakapan saya via chat selepas lulus SMP dan memasuki gerbang SMA. Kami tidak pernah ber kontakan dengannya dikarenakan kesibukan saya dan dia. Hingga menjelang kelulusan SMA, saya akhirnya bercakap dengan dia lagi.

“woi zah! Sombong lu gak ngabar-ngabari”
“apa’an kamu yang jarang chat aku”
“halah-halah. Lo inget gak kita pernah berantem loh!”

Saya mencoba mengingatkan dia agar menjaga ucapannya, dan mencoba membuka kenangan kami berdua,
“masa sih? Sejak kapan aku suka marah-marahin ke kamu?”

Saya tak tahu apakah dia pura-pura amnesia atau cuma sekedar memancing saya. Yang saya tahu saya merindukan dia. Kangen berantem dengan teman sebangku. Saya yang membencinya pun kini merindukannya. Sejak lulus SMP, dia tak pernah kembali lagi. Dia kembali ke kampung halamannya, Bali. Melanjutkan sekolah SMK jurusan memasak.

Saya tiap kali mengkontak dia selalu bahasannya tidak jauh-jauh dari kata cowok atau jodoh. Agak membosankan memang. Saya masih SMA kenapa masih ngomongin jodoh? Apa hubungannya coba? Herannya saya dalam hati

“Nis, uda ada cowoknya belum?”
“jangan lupa kalo nikah beneran, undang-undang yak!”, dan sebagainya.

Kini saya tahu kenapa dia selalu membicarakan hal tersebut. Mungkin karena banyak beberapa temen SD saya sudah pada menikah selepas SMP. Saya tidak tahu apakah mereka melanjutkan SMA. Yang saya tahu, menikah di usia menurut saya yang pantas adalah selepas SMA. Tapi nyatanya tidak. Mereka menikah bukan karena seperti yang diberitakan, yakni MBA. Namun temen saya SD berbeda. Sejak mereka menikah, mereka telah memakai cadar! Saya terheran-heran, bertanya-tanya dalam hati. “selepas dari SMP AL-Izzah, kamu sekolah lagi dimana? Kok bisa pakai cadar??”

Dua orang yang menikah ini adalah sepupu juga, dan dua-duanya memakai cadar. Mereka telah dikarunia anak yang dimana saya harus berjuang untuk kuliah. Di saat banyak yang nikah muda karena MBA, namun mereka menikah demi sunnah. Subhanallah.

Melihat anak-anaknya dia yang lucu-lucu, membuat saya jadi pengen punya anak juga. Tapi karena orang tua saya selalu mengedepankan pendidikan, tidak boleh nikah muda, tidak boleh pacaran juga membuat saya agak sedih. Yah gimana nikah muda tak boleh, apalagi pacaran. Saya sempat mebuat pilihan pada orangtua saya,”mending saya pacaran aja kalo gak boleh nikah! Susah amat sih!”.

Padahal orangtua saya dulu juga menikah dalam keadaan masih kuliah. Duh, kenapa harus menghalangi anakmu untuk menikah? Mencarikanku pun tak mau. “duh belajar yang bener, nak. Lulus baru boleh nikah”. Saya tahu orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ingin anaknya repot mengurus rumah tangganya semasa kuliah. Tapi masa harus sampe segitunya? -_-

Yah saya cuma bisa bersabar, dan itu cuma masalah waktu saja. Jujur saja, Saya bosen menjomblo sekian lamanya dan pengen punya gandengan. Tapi saya juga risih kalau harus pacaran lagi. Malu sama rok dan hijab yang saya pakai. Saya mencoba menutup tentang harapan itu. Biarlah hidup berjalan sebagaimana adanya.

Harapan berbeda dengan do’a. jadi saya hanya berdo’a tapi tak berani berharap. Karena semakin saya berharap semakin jauh dari kenyataan. Tapi Zah, lu jangan ngomporin gue buat nikah. Mending lu aja yang nikah n ngundang-ngundang gue. Ini bukan perkara siapa cepat, tapi ini perkara sehidup semati!

Mempunyai teman yang menyebalkan seperti dia itu ada kenangan tersendiri bagi saya. Sesebal-sebalnya saya dengan dia, saya tetap menyayangi dia. Semoga Allah melindungi dia dimanapun ia berada. Aamiin..

MENGENAL CINTA TANPA BATAS

Mengenai Cinta itu bermakna luas. Tak sesempit dalam kolong tempat tidurmu. Imajinasi boleh tercurahkan dalam tintamu, namun berilah batasmu agar tidak memaknai yang sia-sia. Jangan memaknai cinta itu sesempit pikiranmu. Luasnya pengalaman hidup itulah makna kekayaan sejati. Kenalilah cintamu, jangan biarkan ia pergi.. Semoga beberapa kisah kecil ini menginspirasi Anda semua :)

CINTA ITU TAK MENGENAL USIA
Menikah dengan beda usia yang jaraknya terpaut jauh, jika telah berjodoh pun kita takkan kuasa untuk menolaknya. Kita tak boleh menolak takdir Allah yang telah ditetapkan, Seperti yang dikisahkan dalam tulisan ini..

Bapak saya tiap pekan selalu mengaji di masjid ta’lim As-Sakinah oleh ustadz Achmadi. Beliau telah lama menduda puluhan tahun lamanya. Usia beliau kurang lebih kayak kakek-kakek pada umumnya, namun ingatan tentang ilmu agama pun tak berkurang sedikitpun meskipun usia merenggutnya. Mbah Achmadi begitu saya memanggilnya, beliau orangnya tinggi, lebih tinggi dibanding bapak saya. Beliau orangnya santun, dan selalu mengunjungi bapak saya dengan mengendarai sepeda onthel tuanya.

Beliau pernah berhaji bersama bapak saya dan beberapa tetangga saya. Sepulang dari haji tersebut, kami sekeluarga dikejutkan bahwa mbah Achmadi akan menikahi guru TPA saya, ibu Anna. Ibu Anna waktu itu usianya mungkin 26’an, beliau pernah mengajar TPA di masjid Al-Ikhlash dekat rumah saya yang dulu di kontrakan. Karena jamaah ingin menghormati beliau, maka pernikahan sederhana pun sukses dilakukan. Di foto, tampak ibu Anna dengan malu-malu mencium punggung tangan mbah Achmadi usai mengucap akad.

Mereka dikaruniai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala seorang anak laki-laki bernama Hamdan. Anaknya cakep seperti bapaknya. Namun usia pernikahan mereka tidak berlangsung lama, mbah Achmadi jatuh sakit dan meninggal dunia. Kini ibu Anna menjadi janda dengan mengajar privat dan mengasuh Hamdan, anak semata wayangnya sendirian. Semoga Allah melindungi ibu Anna dan dikarunia pengganti yang baik untuk ibu Anna. Bagaimanapun, saya juga tidak tega melihat ibu Anna yang masi muda harus menjanda karena ditinggal mati suaminya.

Dari kisah tersebut saya teringat dengan kisah Rosulullah ﷺ menikahi dengan ibunda kita ummat muslim Siti Aisyah, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dimana pada saat itu Rosulullah ﷺ berumur 50 tahun dan Aisyah berumur 7 tahun, namun baru serumah saat berusia 9 tahun setelah masa haid. Menikah tidak membatasi perkara umur, namun menikah boleh dilakukan asal keduanya telah menginjak usia baligh dan memiliki tanggung jawab masing-masing pihak. Aisyah, masih belia tapi Allah mengkaruniakan beliau otak yang cerdas dan piawai. Aisyah juga menjanda saat berumur 18 tahun dan tidak dikarunia satu anakpun. Dari sini saya tidak tahu mengapa Aisyah tidak mempunyai anak dari baginda Rosulullah ﷺ.

Mungkin beberapa masyarakat menganggap hal ini adalah tabu, dan paling memalukan apabila menikahi usia yang jaraknya terpaut jauh seperti yang dilakukan oleh mbah Achmadi dan ibu Anna. Karena perbedaan zaman antara zaman Rosul dengan zaman kini, namun bagi saya, selama Allah tak melarang dan keduanya memiliki ikhtikad yang baik pun tidak masalah. Menikah itu untuk menghindari fitnah, itu saja. Karena mereka berdua adalah sama-sama pengurus masjid, mbah Achmadi adalah seorang imam dan khotib, sedangkan ibu Anna adalah guru ngaji anak-anak TPA. Yah, Semoga Allah mempertemukan ibu Anna dan mbah Achmadi di surgaNya kelak. Aamiin..

CINTA ITU TAK MENGENAL RUPA
Bisa jadi boleh kamu membenci sesuatu, namun itu sangat baik untukmu, begitupun sebaliknya. Sungguh rahasia Allah itu indah. Jangan karena rupa menghilanglah kebaikan semua di bumi, rupa itu hanyalah ujian untukmu. Bergembiralah! Tuhan pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untukmu, tak mungkin Tuhan menciptakanmu dalam keadaan tak ada jodoh. Jodoh itu pasti! Semua itu hanya masalah waktu..

Kisah si kakak A
Kakak sepupu saya ini adalah orang yang sangat rupawan. Banyak temen-temen saya yang menggilai ketampanannya, hingga berani meminta nomer HP dia ke saya. Saya mengangap ini adalah bonus sebagai adek, saya juga suka bercanda dengannya. Karena saya tak punya kakak, dan kuanggap dia sebagai kakak tersayangku :D

Kakakku ini orangnya tergolong telat nikah. Diantara teman-teman dan sepupu saya lainnya yang sebaya dengannya sudah pada nikah. Beberapa teman wanitanya yang pernah dia incar sudah pada menikah juga. Hingga suatu hari ia jenuh pacaran, dan minta saya untuk dicarikan jodoh untuknya. Saya yang masih cupu dan masih SMP pun tak mengerti gimana caranya mencomblang orang yang kebelet nikah.

“adakah gurumu yang cantik itu masih single?,” tanyanya dia pada saya suatu hari.
“ada kayaknya, tapi gatau uda ada calonnya atau gimana,” saya jawab asal.

Dia semangat sekali agar minta dikenalkan, namun saya enggan. Bukan gimana-gimana tapi saya juga tidak tahu harus bicara apa ke guru saya yang dia incar tersebut. Saya biarkan dia mencari sendiri, karena saya males untuk ngomporin dia agar segera menikah.

Beberapa waktu kemudian, saat saya kuliah pada semester pertama tiba-tiba dia telah menikah. Istrinya bukan seperti harapan kakak saya, yakni perfect. Kakak saya ini malah menikahi seorang janda beranak satu yang ditinggal pergi suaminya. Mereka saling mengisi satu sama lain, dan kakakku orang paling hebat didunia ini. Menerima kekurangan pasangannya, dan berani mengambil resiko.

Dia pernah menasehati saya, “lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta dek! Tuh buktinya saya!” :D

***
Kisah si kakak B
Kakak sepupu saya yang B ini juga sama telat nikah seperti kakak saya yang A, hanya bedanya dia memiliki rupa yang (maaf) kurang ideal bagi sebagian orang. Saya akui dulu semasa muda, kakak ini sebenarnya tampan. Karena kecelakaan merenggutnya, dia menjadi malas bergerak akibatnya badannya menjadi tambun dan jerawat yang membopeng.

Saya tidak terlalu dekat dengan kakak B, tapi dia bekerja di perusahaan orangtua saya. Bermula dia suka menggodai saya dan meminta saya untuk dicarikan calon. Seperti biasa, saya agak males mencarikan karena itu bukan tipe saya dan saya juga tak punya gudang cewek-cewek cantik. Walau dia tergolong telat nikah, Alhamdulillah Allah tak membiarkan hamba-hambaNya hidup sendirian.

Kakak B akhirnya menikahi oleh salah satu seorang guru SMP, dikenalkan oleh bulek saya yang juga teman seper-guruan atau teman ngajar di SMP. Wajah mereka benar-benar mirip, dan insya Allah pernikahan mereka barokah tanpa pacaran.

Manusia itu tidak ada yang sempurna, karena itu pasanganlah yang saling melengkapi.
Sebaik-baik rupa itu ialah yang berbuat baik kepada istrinya. Mudah-mudahan kakak-kakakku ini adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam membina bahtera ini. Semoga Allah meridhoi pernikahan mereka, aamiin.

CINTA SEPANJANG ZAMAN
Beberapa samudra pun terlah dilalui, menunggu dalam kepasrahan pada Allah Subhanahu Wata’ala hingga menuju keabadian. Ujian hidup kadang menyiksa batin, namun kau takpeduli seberapa peluh keringatmu membasahi fikiranmu. Hanya ingin melihat mereka bahagia, kau rela melawan rasa getirmu.

Adalah mbah Hj. Siti sumartinah biasa dipanggil mbah Sum atau mbah Uti. Mbah Uti adalah sosok yang paling mengagumkan bagi saya. Beliau wanita yang tangguh setelah ibu saya. Bagaimana tidak, beliau memiliki banyak anak 7 yang sebelumnya ada 13 anak. Beliau mengasuh banyak anak dalam keadaan menjanda. Beliau telah lama menjanda sejak ibu saya masih kecil, mungkin TK tepatnya dan dalam keadaan hamil anak yang terakhir.

Sungguh memiliki banyak anak kadang merepotkan bagi dirinya, selain menjadi kepala sekolah dan mengajar, beliau juga harus mengurus banyak anak. Sebagian anak-anaknya, beliau titipkan ke saudaranya, dan ada juga sebagian sekolah diluar kota. Secara pendidikan, beliau adalah lulusan pesantren Muhammadiyah Jogjakarta. Setidaknya beliau telah mengenyam pendidikan bangku sekolah.

Damiri Hardjoprayitno atau disebut Mbah Kung adalah suami mbah Uti yang telah lama meninggal akibat tetanus setelah tertusuk paku. Meninggalnya mbah Kung tidak mematikan cintanya pada beliau. Beliau tetap setia tanpa menikah lagi dengan diiringi sholat malam yang sering dilakukan dimasa hidupnya. Hingga di masa tuanya, beliau tetap cantik walau tubuhnya dimakan usia.

Beliau meninggal dunia saat saya masih SMP kelas 1, kejadiannya tiba-tiba beliau tidak bisa berbicara seperti biasa. Istilah awal mula gejala stroke malanda. Karena tempat tinggal beliau di desa dan di desa sulit mencari rumah sakit, akhirnya harus ke kota untuk mengobati beliau. Rumah beliau ada di Banyuwangi, jarak yang cukup jauh dari Surabaya tempat saya tinggal. Ibu saya panik dan menunggui beliau di rumah sakit selama seminggu. Ibu saya menyuruh saya untuk segera menjenguknya, namun sayang seperjalanan saya menuju Banyuwangi beliau telah meninggal sebelum saya mengucap kalimat untuknya.

Meninggalnya beliau juga dialami pakde saya, pakde Pung begitu saya memanggilnya. Bagaimana tidak budhe saya yang harus kehilangan ibundanya juga harus kehilangan suaminya pada hari itu juga. Suaminya meninggal dirumah dalam keadaan sendirian. Sebelum dikuburkan, budhe harus pulang kembali ke Sidoarjo bersama anak-anaknya. Sebuah cobaan untuk budhe saya, hingga kini budhe saya tak ingin menikah lagi karena masih mencintai pakde Pung.

Sebuah kisah yang sama, ibu dan anak yang lama menjanda namun bedanya budhe saya menjanda dalam keadaan anak-anaknya telah dewasa dan menikah. Sehingga sekarang beliau telah dikaruniai cucu, walau beliau beranak dua namun cucunya telah banyak.

Pernah dinasehatin oleh bapak saya saat nyekar di makam mbah Uti,”anak-anakku, jika kalian menikah nanti banyak-banyaklah anak dan didiklah sebaik-baiknya. Anak itu investasi akhirat untuk orangtuanya..”

Semoga cintamu selalu mekar hingga akhir zaman, hingga menutup usiamu. Disaat kini banyak yang kawin cerai, namun ada wanita tetap setia walau ditinggal mati sang suami. Wanita memang makhluk yang setia seperti siti Aisyah yang rela menjanda sepeninggal Rosulullah ﷺ , Subhanallahh. Belajarlah engkau dari orang-orang terdahulu ^_^

CINTA ITU BERANI SEHIDUP SEMATI
Cinta itu bukan masalah gombal-menggombal pasangan. Gombal hanyalah bumbu sebagian romansa ini. Jangan berani menerima cinta itu jika hanya belum berani ambil resiko.

Di ceritakan tentang sepasang suami istri, Soedarno dan Sarmiati. Mereka memiliki anak yang sangat banyak yakni 9 dan tinggal di rumah kayu serta memiliki warung makan. Memiliki anak yang banyak memang bukan perkara mudah, namun mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya untuk menjadi sukses. Diantaranya sudah ada yang lulus hingga perguruan tinggi.

Mbah No dan mbah Sarmi begitu saya memanggilnya. Mereka adalah kakek dan nenek saya. Mbah No memiliki watak yang keras, tidak segan-segan memukul anaknya jika nakal. Mbah Sarmi adalah wanita yang lembut dan cekatan. Walaupun mereka bukanlah orang yang berpendidikan dan masih buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Namun merekalah yang mengajarkan saya tentang cinta.

Tinggal dirumah kayu yang sederhana ini tak membuat cinta mereka surut. Dulu yang masih berlantaikan semen dan tanah, berkasur lapuk, berdinding kayu, berpintu selambu, dan memiliki sumur. Kini telah tergantikan oleh keramik, berkasur spring bed, berpintu kayu, dan berdinding bata. Walau kini telah berubah, namun saya senang pernah hidup dimasa itu, yang dimana sempat merasakan hidup susah.

Pada masa SD itulah awal mula kejadian saat di mana kakek saya jatuh sakit, stroke. Kecelakaan itu bermula saat kakek saya tepleset di kamar mandi. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dalam keluarga kami dan minimnya peralatan rumah sakit membuat stoke kakek ini tak bisa disembuhkan. Kakek menjadi lumpuh total dan hanya sebagian mulut, mata, dan tangan yang bisa bergerak walau sangat lemah.

Mbah Sarmi syok, namun beliau sangat tegar menghadapi cobaan yang mendera pada suaminya. Beliau tetap setia menyiapkan sarapan, memandikannya, menyiapinya, membersihkan hajatnya yang meluber di kasur. Jika kakek muntah, beliau menggosoknya dengan minyak. Beliau bertahan hingga beberapa tahun lamanya, tetap setia dengan segala rutinitas hariannya sembari menjaga warung. Beliau mengurusnya sendiri karena tak ingin membiarkan anak-anaknya kerepotan mengurus kakek, dan beliau tahu bahwa anak-anaknya telah memiliki keluarga sendiri walau anak-anaknya telah menawarkan diri. Sungguh sebuah perjuangan yang patut ditiru, ikhlas tanpa balasan.

Hingga menjelang saya SMA, kakek menghembuskan nafas terakhir. Saya tidak tega melihatnya sakit bertahun-tahun, namun nenek tetap setia disampingnya. 3 hari kemudian setelah meninggalnya kakek, nenek akhirnya ikut menghembuskan nafas yang terakhir, walaupun nenek tidak mengalami keluhan apapun. Sungguh Allah hanya menguji sebagian orang beriman, menguji kesetiaan mereka berdua agar dicontoh oleh anak-anaknya dan cucu-cucunya.

*teruntuk almarhumah kakek dan nenek saya di peristiratan yang terakhir di Kediri, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, dan memberikan peristirahatanmu di tempat yang terbaik. Aamiin.

CINTA ITU TAK MENGENAL MAPAN
Kemapanan itu hanya relative, tapi yang dilihat adalah perjuanganmu untuk meraihnya. Cinta itu perlu bumbu, bumbu cobaan itu salah satunya. Jika hanya kenikmatan yang didapat tanpa rasa pengorbanan maka kita takkan tahu seperti apa rasanya berjuang.

Sebelum bapak menikahi ibu saya, bapak muda dulu sama seperti pemuda-pemudi lainnya. Senang ngapel malam minggu di tempat kos ibu saya. Mereka kuliah di tempat yang sama, UNAIR (Universitas Airlangga) namun berbeda jurusan. Ibu saya bidang Akademi Gigi (D3), sedang Bapak saya bidang Kesehatan Masyarakat. Dua insan bertemu secara tak sengaja di sebuah acara besar kampus. Mereka memiliki kesamaan dalam organisasi, ibu saya masuk IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), sedang Bapak saya adalah pendekar Tapak Suci, dan pendiri Tapak Suci di UNAIR.

Memiliki background agama yang sama menyatukan mereka. Karena lama pacaran ibu saya mendesak bapak agar menikahinya. Namun bapak menolaknya karena belum mapan dan harus membiayai sekolah adik-adiknya ke perguruan tinggi. Karena ibu saya tidak ingin berlama-lama pacaran, akhirnya ibu saya terpaksa harus memutuskan bapak, “Sampai kapan saya harus menunggu hingga adekmu lulus? 5 tahun? 10 tahun? Adek-adekmu kan banyak? Mana bisa saya menunggu segitu lamanya!”. Ibu meninggalkan bapak dengan kegamangan dan kegalauan yang teramat dalam.

Ibu saya mulai dikenalkan dengan beberapa calon, salah satunya adalah seorang Angkatan Militer. Mereka hampir menikah, namun tak jadi karena ibu saya tak sreg dengannya walau rupa itu bisa memikat hatinya. Dan ibu mulai menunggu jodoh datang..

Karena rindu, bapak nekat ngapelin ibu saya. Menanyakannya apakah sudah ada calonnya atau belum? Didorong oleh ibu saya agar bapak berani memutuskan yakni menikahinya atau meninggalkannya. Karena tidak mau kehilangan kedua kalinya, akhirnya bapak saya berani memutuskan untuk menikahi ibu saya dalam keadaan tak punya apa-apa. Banyak yang membantunya agar Bapak dan ibu bisa menikah. Subhanallah, Sungguh perjuangan mereka dimulai saat mereka menikah.

Hingga saat saya lahir, saya merasakan hidup susah. Orangtua yang berjuang mencari nafkah, ibu membuka usaha catering, dan klinik gigi palsu. Serta bapak yang bekerja di pabrik Pocari Sweat. Rela berhutang agar nasi tetap ngepul di dapur, dan kebutuhan anaknya terpenuhi. Sempat di tipu orang dengan uangnya dibawa lari. Hingga beberapa bulan bapak resign dari tempat pabrik untuk membuka usaha baru di bidang kesehatan. Setelah resign dari pabrik, hidup bapak dan ibu mulai berubah menjadi lebih baik.

Dari hidup di kontrakan, menerima orderan harus rela minjem telepon di tetangga sebelah hingga memiliki rumah sendiri. Adik saya si bungsu, Zulfan lahir dalam keadaan orangtua sudah hampir mapan, sudah memiliki usaha baru, rumah baru, dan kendaraan baru. Alhamdulillah Allah mengkaruniakan rejeki untuk keluarga kami, dan bahwa saya menjadi tahu menikah itu berarti memperluas rejeki ;)

Saya mengajak si bungsu untuk menelisik rumah kontrakan lama kami saat jalan pagi. Saat saya menyapa orang-orang disekitar, hampir saja saya melupakan mereka namun mereka masih mengingat saya. Sejak ibu dulu bekerja, saya kecil dulu diasuh oleh tetangga ibu-ibu RT. Saat bertamu, “berapa bersaudara sekarang? Wah ini ya si kecil? udah besar ya”. Decak kagum mereka melihat adek saya yang telah tumbuh besar, Faris. Si kecil itu adek saya yang pertama, Faris sewaktu tinggal di kontrakan. kami diciuminya, disalaminya berkali-kali, antara rindu dan haru karena tidak menyangka kami sekeluarga bisa menuju ketempat yang lebih baik.

Menikah sebelum mapan itu membuat sang anak akan mencicipi rasa pahitnya kehidupan. Hidup itu keras dan harus tetap berjuang. Sebelum bisa hidup enak, kita juga harus rela bersusah-susah dahulu. Karena dari situ, saya malu untuk sombong. Untuk apa sombong, kalau di masa lalu kita pernah seperti mereka diluar sana ;)

CINTA ITU BERARTI MENERIMA KONSEKUENSI
Menikah itu bukan hanya bersatunya dua insan, namun lebih dari itu. Menikah belum tentu saling memahami kondisi tiap pasangan. Selalu ada hambatan dalam membina bahtera rumah tangga, tapi Allah pasti akan menunjukkan jalan keluarnya bagi yang bersabar..

Sejak saya kuliah di Bandung, krisis keuangan dan kepercayaan pun menghampiri di keluarga kami. Bapak tiba-tiba memiliki ambisi sama seperti para politisi lainnya, menduduki jabatan di DPR. Sungguh kami sekeluarga tidak setuju jika bapak masuk DPR. Saya tak ingin hilangnya kasih sayang bapak di keluarga kami dengan kesibukannya di DPR. Ketika bapak berceloteh tentang keinginannya, saya hanya bisa diam. Karena sifat saya dan bapak sama, saya hanya berusaha nahan diri untuk tidak ngotot mengatakan “TIDAK BOLEH!”.

Karena bapak orang terpandang di lingkungan saya, banyak orang-orang menawarkan jabatan untuk bapak. Alasan bapak mau menerima tawaran itu bukan karena uang, tapi ingin memperbaiki undang-undang yang amburadul di masyarakat saat ini. Walau bapak tahu cara mengambil hati masyarakat itu tak lepas dari pencitraan. Dan saya menjadi tahu cara busuk politisi mengambil hati rakyat, yakni money politics.

Sejak bapak kesandung suatu kasus yang melibatkan perusahaan bapak, bapak terpaksa di tahan atas tuduhan faktur pengadaan barang. Sempat sekeluarga syok karena bapak sebelumnya tidak begitu terlibat dengan kasus-kasus lainnya. Bapak mengatakan bersumpah tidak bohong, dan itu semua hanyalah permainan mereka. Ditahannya bapak memuat Koran lokal yang tidak ingin saya melihatnya. Ibu saya hanya menangis, banyak tetangga menggunjing keluarga kami. Walau di belakang mereka busuk, tapi di depan mereka tetap menghormati ibu saya.

Sepeninggal bapak, ibu saya harus menggantikan kepemimpinan perusahaan bapak. Memberi pengarahan karyawan agar kuat menghadapi cobaan, menghadapi pengacara, menghadapi utang piutang kredit bapak, dan pengeluaran untuk pendidikan anak-anaknya. Ibu saya menghadapi cobaan sendirian, disaat saya dan adik-adik saya jauh darinya demi menimba ilmu. Ibu saya tidak memiliki teman curhat, karena ia tahu semua orang hanya membicarakannya. Curhatpun hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Krisis keuangan melanda karena utang-pitang kredit bapak yang besar, beberapa tanah dan mobil pun terpaksa dijual. Bapak awalnya tidak setuju harus menjual asetnya, namun dengan pengertian dan kesabaran ibu sayalah akhirnya asset yang terjual bisa kembali lagi dengan diganti yang lebih baik. Ibu saya adalah pengelola keuangan yang baik, karena pernah kuliah S1 di UNTAG (Universitas 17 Agustus) setelah kuliah di UNAIR.

Sejak utang kredit membengkak, ibu saya terpaksa menutup semua akun-akun kreditnya dan menggantinya ke bank syariah. Bapak awalnya tidak mau mengganti ke syariah, namun ibu saya selalu sabar mengahadapi bapak yang keras kepala. Ibu saya tidak banyak marah seperti di sinetron-sinetron lainnya. Ibu hanya memberi pengertian pada bapak pelan-pelan, inilah poin penting kehidupan. adakalanya bahwa hidup tidak selalu diatas tapi juga pasti naik surut. Penderitaan pasti berlalu dengan ijin Allah.

Disaat banyak politisi yang kesandung korupsi, banyak pula para istri meminta cerai karena tidak tahan menanggung malu dengan kasus suaminya tersebut. Padahal mereka harus belajar banyak pada ibu saya :D

“anakku, jika kamu bersuami nanti. Kamu harus menerima konsekuensinya. Selama kamu milik suamimu, kamu harus mematuhinya selama ia taat pada gusti Allah. Inget itu anakku..” nasehat ibu terngiang di telingaku..

Ini hanya sebagian kisah kecil yang pernah hadir dalam hidup saya. Banyak kisah cinta lainnya yang belum di bahas dalam cerita ini. Semoga ini bisa menjadi ibrah bagi kita semua yang belum bisa memaknai cinta yang sesungguhnya. Cinta itu tak mengenal batas, dan bukan sekedar berkasih sayang layaknya orang pacaran. Allah mengaruniakan kita cinta untuk dipahami, bukan sekedar hal gombal-menggombal, saling tukar coklat, dsb. Malu jika cinta itu hanya dimaknai bertukar coklat dan kondom, artinya cintamu itu murah untuk di obral!

nb: sumber gambar dari fp kawanimut

TAKBIRAN BERSAMA TPA

Takbiran sebelum idul adha bersama anak-anak TPA.

Sebelumnya saya sudah di infokan oleh temen saya lewat facebook. Tapi saya hanya meng-LIKE  saja tapi tidak niat untuk mengikuti. Tapi yang selalu bikin heran, kenapa semuanya yang aku jalanin ini selalu spontan, tidak pernah merencanakan sebelumnya.

Temen saya tiba-tiba datang ke kosan lalu mengajak saya ikut takbiran di MSU (Masjid Syamsul Ulum) daerah Universitas Telkom bersama anak-anak TPA. Yaudah saya meng-iyakan saja. Lumayan, karena uda lama gak ngajar TPA lagi setelah pertama ngajar tadi. Jadi saya merindukan anak-anak TPA ini hehehe.

Tiba di lokasi, sebelumnya panitia penyelenggara ini memberikan gelas plastik yang telah dilobangin untuk dipasangin lilin, jadi obor lilin gitu. Tapi yah namanya plastik gak bisa aman terkendali gitu aja. Panitia ini tidak menyadari kecelakaan ini, dikiranya aman. Tapi karena anak-anak TPA rata-rata masih bocah ikut memegangi obor lilin, banyak tingkah pula. Kalau penggunaannya gak tepat bisa celaka. Sebelum melakukan takbir saja sudah ada yang kena.

Gelas plastik itu mudah terbakar apabila api lilin itu sejajar dengan pinggiran gelas. Jadi saya menghimbau para panitia dan anak-anak agar api lilin itu jangan sejajar dengan pinggiran gelas, namun di tinggikan lilinnya, sehingga api lilin itu tidak mengenai peinggiran gelas yang nantinya akan terbakar. Sebelum takbiran jalan, saya yang mengecek obor lilin itu, karena takut ada kecelakaan yang menimpa anak-anak kecil ini. Jadi selama takbiran berjalan, saya gak tenang bertakbir selayaknya orang bahagia akan datangnya hari besar umat islam itu. Tapi saya berkonsentrasi terhadap obor lilin itu, parah kan ya? :D iya saya orangnya mudah panik karena uda 1 orang yang kena, jadi gamau ada yang kena lagi.

Pernah ada si panitia ga menyadari gelasnya terbakar, aku teriak-teriak, “woii woiii lilinmuu!!” setelah dia menyadari dia menjatuhkan lilinnya yang baru dia pegang. Astaghfirullah, ini bener-bener bikin jantungan. Saya jalan mondar-mandir dari barisan depan-belakang berharap gak ada apa-apa. Tapi dasarnya anak-anak suka meniup lilinnya, main-main dengan lilin, kan bahaya. Tapi alhamdulillah acara berlangsung lancar walau ada kejadian yang ‘mengerikan’ tapi untung tidak mengenai korban.

Sebenernya acaranya bagus cuma kekurangannya gelas plastik tersebut mudah terbakar.  Tapi gak apalah, saya bahagia bertemu mereka J

MARI KITA BERTAKBIR!

“ALLAAHU AKBAR!

ALLAAHU AKBAR!

LAA ILAAHA ILLALLAH WALLAAHU AKBAR!

ALLAAHU AKBAR, WALILLAA ILHAM “

NGAJAR TPA!!

Hahha ngajar? Gilak, Jadi guru dong?

Gak, saya ga jd guru. Saya hanya pengajar secara cuma-cuma.

Awalnya saya gak nyangka bakalan gini ceritanya. Sebelumnya saya ada acara di suatu organisasi, selesai acara dan mau pulang ke kosan. Tiba-tiba temen saya ngajakin saya ngajar TPA, “nis, ngajar TPA yuk!”. Whaaattt ngajar?? Hati saya bertanya-tanya, “eh gak ah, ntar aja”. Temenku memaksa,”ikut aja nis sekarang, nambah pengalaman”. Baiklah, akhirnya saya ga jadi pulang ke kosan, tapi menuju musholah deket kosan.

ini anak-anakku, dari TPA As-Shodiq
ini anak-anakku, dari TPA As-Shodiq
berasa kayak anak sendiri ya :D
berasa kayak anak sendiri ya :D

Alasan gamau ngajar karena saya gak punya skill mengajar, trus saya orangnya jarang ngaji. Ditambah lagi saya orangnya kadang suka lepas jilbab. Lah kalo ngajar, berarti saya harus jaga imej dong? Ga boleh buka-tutup gitu. Tambah berat ini walaupun secara cuma-cuma sih ya. Tapi bagi saya, bila saya melakukan hal itu walau sekali, saya harus siap lahir-bathin jadi lebih baik, bukan asal-asalan. Akhirnya, karena ikut organisasi keislaman, ditambah ngajar, mau gak mau saya harus pake jilbab yang bener. Sebenernya bagi anggota lain ga masalah kalo saya masih seperti itu karena masih belajar. Tapi bagi saya, anak-anak bakal ikut tingkah laku saya, jadi saya ga bisa sembarangan melakukannya. Dan saya adalah panutan buat anak-anak itu. Ukh..

Pertama di musolah, ya ampuuun jauh dari kata ideal. Anak-anak berisiknya minta ampun! Rasanya pengen teriak, tapi saya liat para pengajar lainnya pada telaten, akhirnya saya nahan sabar. “kak, ngajii dongg,” kata adek perempuan kecil itu seraya menyodorkan kartu setoran baca qur’an. Bayangkan, mendengarkan dia mengaji dalam keadaan anak-anak rame, mana bisa saya konsentrasi. Akhirnya saya menyuruh adek kecil itu pindah tempat ke pojokan, karena saya kalo dalam ramai tidak bisa konsentrasi. Alhamdulillah hari pertama ngajar lancar walau sebenernya sih ya agak kacau, tapi lumayan bisa melatih kesabaran.

Anak-anak TPA ini lucu-lucu, manjaaa sekali. Ku lihat para pengajar ikhwan tu sepertinya siap jadi seorang ayah, haha. Kenapa bisa? Iya, karena anak-anak kecil suka main sama mereka, digendong, diladenin anak-anak yang kadang rewel. Ada lagi si kecil pura-pura nangis, kami para pengajar bengong, ada apa gerangan? Akhirnya kubiarkan dia, pas TPA berakhir dia tiba-tiba menertawaiku. Nakal ya? Gak kok, anak-anak ini hanya cari perhatian menurutku. Ada lagi anak yang agak besar ini minta nomer HP-ku. Saat saya lagi ngajar, tiba-tiba dia memaksa saya untuk memeriksa HPku yang katanya ada SMS, “iya ada SMS tapi nanti aja, ini lagi ngajar”. Bukannya menurut, tapi malah merajuk, yaudah akhirnya saya mengecek HP saya. Ada 2 SMS, 1 nomor tidak dikenal, isinya: “kakak lagi ngapain?”. saya menoleh ke arah anak itu sambil melototin dia, “kamu yang sms kakak ya?” dan dia menertawaiku. Menggemaskan sekali-anak-anak ini.

Setiap kali ngajar, kalo ada anak males ngaji saya jadi kepikiran gimana nantinya kalau anakku males ngaji? Apa yang harus aku lakukan? Hahaha pikiranku ngaco :p Dan hal yang paling mengharukan, anak-anak kalau ketemu saya selalu salim layaknya seorang guru hihihi.

Ketika saya menceritakan hal tersebut pada orang tua saya, mereka sangat mendukungku, bahkan saya gak boleh absen mengajar. Tapi namanya juga masih tahap saya gak bisa langsung ngajar terus. Ada kalanya batin saya bergejolak, belum siap menerima perubahan. Bahkan sangat-sangat berat bagi saya yang awalnya belum mengenal jauh islam, setelah mengenal saya terjatuh lagi. Nangis? Tentu saja, tapi menangis dalam hati, karena saya tidak menyukai menangisi hal yang menurutku tidak penting. Tapi menyakitkan bila orang yang dulu deket tapi tidak menyukai perubahanku, salahkah? Ini yang bikin galau, haruskah aku berhenti ataukah tetap jalan? Tapi komitmen saya, saya gamau mengecewakan bapak-ibu saya yang telah memberikan kepercayaan penuh padaku. Mereka menaruh harapan besar padaku, berat memang. Karena saya adalah anak pertama yang harus bisa menjadi panutan untuk adik-adikku.

Baiklah saya mampu, dan saya kuat. Terimakasih telah mengenalkan aq dengan cahaya islam ini. Inilah yang saya rindukan setelah saya lulus SMP. Lulus SMP saya semakin jauh dari islam dikarenakan saya gak diterima dilingkungan semasa SMA. Karena itu pelampiasanlah satu-satunya cara untuk menarik perhatian orangtuaku, namun mereka tak pernah mengerti apa mauku dan aku juga gatau mengapa aku melakukan ini? Betapa bodohnya saya bila mengingat itu semua.